Beranda Nasional Sepenggal Kisah Tragedi Tambang Di Desa Bakan

Sepenggal Kisah Tragedi Tambang Di Desa Bakan

153
0
Lokasi tambang emas di Desa Bakan, Kabupaten Bolaang Mongondow. Foto: Marshal Datundugon.

Gorontalo, mimoza.tv – Amrin Simbala, warga Desa Bilalang, berharap anaknya, Kadri Simbala (39) yang menjadi salah satu korban longsor itu masih hidup. Dia mengaku, di hari pertama pencarian, Rabu (27/2), sekira pukul 15.00 Wita, dirinya mencoba masuk lubang tambang yang tertimbun. Dia mendengar ada suara dari balik reruntuhan yang berteriak minta air. Dari suaranya, Amrin yakin itu Kadri, anaknya.

Amrin Simbala, warga Desa Bilalang, yang hingga kini berharap anaknya, Kadri Simbala (39) yang menjadi salah satu korban longsor itu masih hidup. Foto: Marshal Datundgon.

“Siapa ngana?,” teriak Amrin, bertanya.

“Kita Odeng,” jawab suara dari balik bebatuan. Odeng merupakan sapaan akrab Kadri.

Mengetahui anaknya masih hidup, Amrin sempat mendesak tim SAR gabungan bersama warga untuk memaksimalkan upaya evakuasi, agar anaknya secepatnya bisa diselamatkan
Sayangnya, pencarian tidak memungkinkan lagi dilakukan dengan menggunakan peralatan manual. Kondisi bebatuan di dalam lubang yang labil bekas reruntuhan sangat beresiko dan membahayakan jiwa tim yang masuk.
Hari kedua pencarian, Kamis (28/2), sakira pukul 05.00 Wita (dini hari), Amrin kembali nekat masuk ke dalam goa tambang yang runtuh. “Saya coba panggil. Tapi tidak ada lagi suara,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Sejak  hari pertama pencarian, dan dengan modal baju di badan, Amrin belum pernah meninggalkan tempat kejadian.

Kamis (27/2/2018) saya dan tiga rekan jurnalis mencoba naik menuju lokasi tambang yang ambrol di Desa Bakan. Untuk ke lokasi, Kami harus naik selama 3 jam jalan kaki, jalur terjal dan jurang sisi kanan-kiri. Saking ekstrimnya medan, dua rekan kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Posisi tambang ini berada di tebing curam. Kami bisa merasakan betapa luar biasa perjuangan para penambang mengais rezeki siang dan malam untuk anak istrinya.

Mereka yang ditemukan meninggal dan saat ini masih terkubur di lokasi, adalah pahlawan keluarga. Ya…mereka adalah pahlawan keluarga…

Kami menyaksikan langsung drama proses evakuasi korban asal Pontodon Tedi Mokodompit yang masih bertahan selama 32 jam. Bahkan, kakinya harus diamputasi karena terjepit batu besar. Namun sayang, ketika tubuhnya berhasil dikeluarkan,Tedi tak bisa bertahan lagi.Dia menghembuskan nafas terakhir.

Upaya tim medis mengembalikan denyut jantungnya tak berhasil. “Innalillahi waina ilaihi rojiun. Tedi MD” (meninggal dunia), ujar salah satu petugas SAR di lokasi.

Selamat Jalan Tedi…Perjuanganmu untuk keluarga luar biasa. Kamu dan korban lain mempertaruhkan nyawa demi kehidupan yang lebih baik harus berakhir pilu.*

Sumber artikel: Marshal Datundugon, Supardi Bado.