Beranda Lingkungan Upaya Konservasi Burung Indonesia Di Wilayah Gorontalo

Upaya Konservasi Burung Indonesia Di Wilayah Gorontalo

180
0
Foto: Christopel Paino

Gorontalo, mimoza.tv – Bagian barat ProvinsiGorontalo, yang dikenal sebagai Bentang Alam Popayato-Paguat, merupakan daerah pentingbagi keragaman hayati. Di lahan multiguna seluas 350.000 hektar ini, terdapat275.000 hektar lahan hutan yang terdiri dari cagar alam, suaka margasatwa dan sembilan hutan lindung.

Bentang alam tersebut juga merupakan huludari empat sungai besar. Sebanyak 169 spesies burung tercatat berada di sini,70 spesies di antaranya merupakan spesies endemis Sulawesi, sebanyak 47 spesies dilindungi oleh hukum Indonesia. Selain itu, lima spesies burung terdaftar sebagai spesies terancam punah secara global, termasuk spesies “kharismatik” seperti julang sulawesi (Rhyticeroscassidix) dan maleo (Macrocephalonmaleo) menggantungkan kehidupannya pada ekosistem hutan yang sehat.

Sebanyak 23 spesies mamalia juga tercatatdi daerah tersebut dan delapan diantaranya adalah endemis termasuk babirusa (Babyrousacelebensis), anoa dataran tinggi (Bubalusquarlesi) dan anoa dataran-rendah (Bubalusdepressicornis), dan tarsius spektral.

Sejak 2009, Burung Indonesia telah bekerjadi Bentang Alam Popayato-Paguat untuk mempromosikan konservasi burung dan keanekaragamanhayati, serta meningkatkan penghidupan masyarakat setempat.

Maleo. Foto: Akun Facebook Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Untuk melakukan upaya tersebut, Burung Indonesia telah bekerja secara intensif dengan pemerintah di semua tingkatan, universitas, organisasi kemasyarakatan, media, instansi terkait, dan yang paling penting dengan penduduk desa yang tinggal di tepi hutan.

“Burung Indonesia mengapresiasi kepedulianToyota terhadap lingkungan melalui donasi kendaraan. Dukungan ini berkontribusi besar terhadap upaya Burung Indonesia dan pemangku kepentingan lokal untuk melestarikan hutan dan keanekaragaman hayati, serta memelihara pendekatan konservasi dan pembangunan terpadu di Bentang Alam Popayato Paguat,”kata Dian Agista, Direktur Eksekutif Burung Indonesia.