GORONTALO, mimoza.tv — Jeruji tak lagi jadi batas kreativitas. Di tengah peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Gorontalo justru menunjukkan sisi lain dari pembinaan: produktif, bernilai, dan layak bersaing.
Melalui bazar yang digelar Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Gorontalo, Jumat (10/4/2026), beragam produk hasil tangan warga binaan dipamerkan. Mulai dari minyak kelapa kampung, kerajinan tangan, hingga hasil pertanian dan olahan makanan—semuanya lahir dari proses pembinaan di balik tembok lapas.
Pelaksana Tugas Kalapas Gorontalo, Sahduriman, menegaskan keikutsertaan ini bukan sekadar meramaikan acara.
Ada pesan yang ingin disampaikan: warga binaan bukan beban, melainkan potensi yang sedang dipulihkan.
“Ini bagian dari upaya membangun kepercayaan diri mereka. Kami ingin publik melihat bahwa warga binaan mampu berkarya dan menghasilkan produk bernilai ekonomi,” ujarnya.
Lebih jauh, bazar ini juga menjadi etalase kecil dari program pembinaan kemandirian yang selama ini berjalan di dalam lapas. Produk yang ditampilkan bukan hanya hasil latihan, tapi juga cerminan kesiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan.
Namun di balik semangat itu, ada pekerjaan rumah yang tak kecil: bagaimana memastikan produk-produk tersebut tidak berhenti sebagai pajangan seremonial, melainkan benar-benar masuk ke pasar dan berkelanjutan.
Sahduriman berharap, momentum HBP ke-62 ini bisa memperkuat sinergi antar unit pemasyarakatan sekaligus membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan masyarakat.
“Harapannya, pembinaan di dalam lapas semakin produktif dan berdampak nyata, bukan hanya bagi warga binaan, tetapi juga untuk masyarakat,” tandasnya.
Bazar ini, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat: di balik stigma, selalu ada peluang kedua—asal diberi ruang, dan benar-benar dimanfaatkan. (rls/luk)



