GORONTALO, mimoza.tv – Di tengah kebanggaan Gorontalo sebagai salah satu daerah penghasil jagung terbesar di Indonesia, Rachmat Gobel justru mengingatkan adanya paradoks yang selama ini luput dari perhatian.
Menurut pimpinan Gobel Group itu, dominasi jagung sebagai komoditas utama belum mampu memberikan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat. Indikatornya terlihat dari angka kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di daerah tersebut.
Karena itu, Gobel memilih mengambil langkah berbeda. Melalui berbagai investasi sektor pertanian, perkebunan, pengolahan hasil, hingga pengembangan kawasan agrominapolitan, ia ingin mendorong lahirnya ekonomi berbasis nilai tambah di Gorontalo.
“Gorontalo selama ini dikenal hanya jagung. Padahal lahannya sangat luas. Pernah Gobel menanam kakao di Boalemo dan itu berhasil. Bahkan kami membuat cokelat dengan merek Otanaha yang berhasil dipasarkan hingga Jepang dan Prancis,” kata Rachmat Gobel, Sabtu (21/6/2026).
Bagi Gobel, keterlibatannya membangun Gorontalo bukan sekadar pertimbangan bisnis. Ada ikatan emosional yang kuat sebagai tanah kelahirannya, sekaligus amanah keluarga yang harus dijalankan.
“Pertama karena Gorontalo adalah kampung halaman saya. Kedua, ada pesan orang tua agar perusahaan Gobel ikut terlibat membangun Gorontalo,” ujarnya.
Berangkat dari alasan tersebut, Gobel menyiapkan visi jangka panjang hingga tahun 2051. Selama tiga dekade ke depan, ia ingin mendorong transformasi sektor pertanian dari sekadar penghasil bahan mentah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Menurutnya, ketergantungan terhadap satu komoditas saja tidak cukup untuk mengangkat kesejahteraan rakyat.
“Kalau hanya jagung, nilai tambahnya sangat terbatas. Terbukti jagung yang selama ini kita banggakan, kemiskinannya masih tetap ada. Artinya manfaat ekonominya belum optimal dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Karena itu, Gobel mendorong diversifikasi komoditas pertanian. Selain kakao, ia melihat potensi besar pada kopi Pinogu, kacang tanah, kedelai, hingga pisang yang memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola secara terintegrasi.
Menariknya, pisang bukan sekadar komoditas bagi keluarga Gobel. Tanaman tersebut memiliki makna tersendiri karena menjadi filosofi bisnis yang diwariskan almarhum Thayeb Gobel kepada generasi penerus perusahaan.
Komitmen pengembangan kakao pun tidak berhenti di Kabupaten Boalemo. Dalam waktu dekat, Gobel Group berencana memperluas areal perkebunan kakao ke Kabupaten Pohuwato.
“Saya sudah bicara dengan Bupati Pohuwato. Insyaallah tersedia lahan sekitar 4.500 hektare yang bisa dikembangkan untuk tanaman kakao. Kebutuhan cokelat dunia terus meningkat dan ini peluang besar bagi Gorontalo,” ungkapnya.
Namun yang ingin dibangun Gobel bukan hanya perkebunan dalam arti sempit. Ia menargetkan terciptanya ekosistem ekonomi yang menghubungkan sektor pertanian, industri pengolahan, hingga agrowisata.
Konsep itu mulai diperkenalkan melalui berbagai kawasan pengembangan yang mengintegrasikan produksi, pengolahan, pemasaran, dan wisata berbasis pertanian.
“Yang kita dorong bukan sekadar menanam. Harus ada hilirisasi dan agrowisata agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar,” katanya.
Pernyataan Gobel tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap pola pembangunan ekonomi yang selama ini masih bertumpu pada penjualan komoditas mentah. Tanpa hilirisasi dan diversifikasi produk, daerah penghasil belum tentu menjadi daerah yang menikmati manfaat ekonomi terbesar dari hasil pertaniannya sendiri.
Penulis: Lukman



