GORONTALO, mimoza.tv – Nama Gobel selama ini lebih sering dikaitkan dengan radio, televisi, dan produk elektronik. Namun di balik perjalanan panjang salah satu kelompok usaha terbesar di Indonesia itu, tersimpan kisah yang jarang diketahui publik: dedikasi keluarga Gobel terhadap dunia pertanian nasional yang telah dimulai sejak lebih dari enam dekade lalu.
Jejak itu bahkan dapat ditelusuri jauh sebelum Indonesia mengenal berbagai produk elektronik Panasonic yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Perjalanan tersebut bermula pada 1954 ketika almarhum Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing dan memproduksi radio transistor lokal pertama di Indonesia dengan merek TJAWANG. Di tengah keterbatasan industri nasional saat itu, langkah tersebut menjadi simbol kebangkitan manufaktur anak bangsa.
Semangat nasionalisme menjadi fondasi utama perjalanan bisnis Gobel Group. Pada 1960, Gobel menjalin kerja sama teknis dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. dari Jepang, yang kini dikenal sebagai Panasonic Corporation.
Menjelang Asian Games 1962, Gobel dipercaya memproduksi 10.000 unit televisi hitam putih pertama di Indonesia untuk mendukung siaran pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.Kepercayaan itu menjadi tonggak penting lahirnya industri elektronik nasional.
Namun bagi Thayeb Gobel, kemajuan teknologi tidak boleh berhenti di ruang keluarga atau perkotaan. Teknologi juga harus hadir di sawah dan kebun tempat jutaan petani Indonesia menggantungkan hidup.
Pesan Sang Ayah yang Mengubah Arah Pengabdian.
Dalam pameran 70 Tahun Gobel Mengabdi untuk Negeri yang ditampilkan pada PENAS KTNA XVII di Gorontalo, dipaparkan sebuah kisah yang menjadi titik balik perjalanan Gobel Group.
Setelah sukses membangun industri radio nasional, Thayeb Gobel mendapat pesan dari ayahnya.”Kami bangga orang Gorontalo berhasil membuat radio. Tapi saudara-saudaramu di kampung adalah petani. Kami akan lebih bangga jika kamu bisa membantu mereka mengolah tanah.”
Pesan sederhana itu ternyata membekas sepanjang hidupnya. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1963, Gobel mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor (Paditraktor). Melalui perusahaan tersebut, Gobel menghadirkan berbagai alat mekanisasi pertanian mulai dari traktor, pengering gabah, penyemprot hama hingga mesin pengolah beras.
Pada masa itu, ketika modernisasi pertanian masih sangat terbatas, langkah tersebut menjadi bentuk nyata dukungan sektor swasta terhadap peningkatan produktivitas petani Indonesia.
Dokumentasi sejarah yang dipamerkan Gobel Group menunjukkan bagaimana Thayeb Gobel secara langsung memperkenalkan teknologi pertanian kepada pemerintah dan petani. Salah satunya saat memberikan penjelasan mengenai produk Paditraktor kepada Menteri Suprayogi pada Februari 1963. Sebulan kemudian, Thayeb juga hadir menyaksikan demonstrasi mesin traktor produksi Paditraktor di lapangan. Bagi Gobel, membawa teknologi ke sawah merupakan bagian dari pengabdian kepada bangsa.
Warisan yang Diteruskan Generasi Kedua
Setelah wafatnya Thayeb Gobel pada 1984, tongkat estafet kepemimpinan diteruskan putranya, Rachmat Gobel.Meski dikenal luas sebagai pengusaha elektronik dan pernah menjabat Menteri Perdagangan serta Wakil Ketua DPR RI, perhatian Rachmat Gobel terhadap sektor pertanian tidak pernah surut.
Di Gorontalo, sejumlah program yang digagas maupun didukungnya menunjukkan kesinambungan visi yang diwariskan sang ayah.
Saat menjabat Wakil Ketua DPR RI, Rachmat Gobel mendorong pengembangan pertanian organik di Kabupaten Bone Bolango sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.Ia juga menggagas pengembangan demplot ubi super di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani.
Tidak hanya itu, Gobel juga terlibat dalam pengembangan komoditas kakao di Kabupaten Pohuwato melalui berbagai program pendampingan dan penguatan akses pasar bagi petani.Komitmen tersebut bahkan berkembang lebih jauh melalui konsep hilirisasi yang kini menjadi salah satu agenda utama pembangunan Gorontalo.
Berbeda dengan pendekatan lama yang hanya berfokus pada peningkatan produksi, Rachmat Gobel mendorong agar hasil pertanian tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah. Melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gorontalo, komoditas seperti jagung, kakao, kelapa, perikanan dan peternakan diarahkan untuk diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi sebelum dipasarkan.
Model ini diyakini mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di sektor industri.
Pendekatan yang sama terlihat dalam kemitraan Gobel Group dengan perusahaan Jepang Châteraisé. Melalui konsep farm-to-factory, kakao hasil petani Gorontalo dapat masuk ke rantai pasok global dan diolah menjadi produk cokelat yang dipasarkan di Jepang.
Sementara itu, perjalanan bisnis Gobel Group sendiri terus berkembang. Tahun 1970 menjadi babak baru ketika dibentuk PT National Gobel melalui kerja sama patungan resmi dengan Matsushita Jepang. Dari sinilah berbagai produk elektronik rumah tangga mulai diproduksi secara massal dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Pada 1994, Gobel Group kembali bertransformasi melalui pembentukan PT Gobel International sebagai holding company yang mengonsolidasikan berbagai lini usaha, mulai dari elektronik, logistik, makanan, properti hingga sektor pertanian.
Transformasi tersebut terus berlanjut hingga saat ini melalui berbagai entitas usaha, termasuk PT Panasonic Gobel Indonesia yang tetap menjadi salah satu pemain utama industri elektronik nasional.
Namun di tengah perkembangan bisnis yang semakin luas, satu benang merah tampaknya tetap dipertahankan: keyakinan bahwa teknologi harus memberi manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, ketika publik melihat Gobel Group membangun kawasan industri, memperbaiki destinasi wisata, mengembangkan pelabuhan internasional, hingga mendorong hilirisasi pertanian di Gorontalo, sesungguhnya langkah tersebut bukanlah cerita baru.
Jejaknya sudah dimulai sejak 1963, ketika seorang anak Gorontalo bernama Thayeb Mohammad Gobel memutuskan membawa teknologi dari pabrik ke sawah, demi membantu petani Indonesia mengolah tanah mereka dengan lebih baik.
Penulis: Lukman.
Dari berbagai sumber.



