GORONTALO, mimoza.tv – Kinerja sektor pertanian Provinsi Gorontalo menunjukkan capaian yang menggembirakan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Juni 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) Gorontalo mencapai 131,04, menempatkannya sebagai provinsi dengan NTP tertinggi kedua di Pulau Sulawesi.
Posisi tersebut hanya berada di bawah Sulawesi Utara yang mencatatkan NTP sebesar 132,59. Sementara itu, Sulawesi Barat berada di angka 120,77, Sulawesi Selatan 118,80, Sulawesi Tenggara 101,61, dan Sulawesi Tengah 100,38.
Tingginya NTP menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang diterima petani dari hasil produksinya masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang harus mereka keluarkan untuk kebutuhan konsumsi maupun biaya usaha pertanian.
Peningkatan NTP Gorontalo terutama ditopang oleh subsektor hortikultura. Pada Juni 2026, NTP hortikultura melonjak hingga 81,25 persen, didorong oleh kenaikan harga komoditas cabai rawit dan cabai merah di tingkat petani.
Tren positif tersebut juga tercermin pada Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yang naik 11,40 persen menjadi 141,42. Selain meningkatnya harga hasil pertanian, efisiensi biaya produksi turut berkontribusi terhadap perbaikan pendapatan usaha petani.
Meski demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi seluruh subsektor pertanian di Gorontalo. Data BPS menunjukkan masih terdapat beberapa subsektor yang mengalami penurunan NTP.
Subsektor perikanan tercatat mengalami penurunan sebesar 4,61 persen, diikuti tanaman perkebunan rakyat sebesar 4,57 persen, peternakan sebesar 2,13 persen, dan tanaman pangan sebesar 1,50 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan petani pada Juni 2026 masih didominasi oleh kinerja subsektor hortikultura. Sementara itu, petani pada subsektor lainnya masih menghadapi tantangan yang memerlukan perhatian, baik melalui penguatan produksi, stabilisasi harga komoditas, maupun kebijakan yang mampu menjaga daya saing usaha pertanian.
Capaian sebagai provinsi dengan NTP tertinggi kedua di Sulawesi menjadi indikator positif bagi sektor pertanian Gorontalo. Namun, keberlanjutan tren tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga stabilitas harga komoditas sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih merata di seluruh subsektor pertanian.
Penulis: Lukman



