Gorontalo, mimoza.tv – “Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, bukan satu alasan untuk kita tinggalkan.”
Potongan lirik lagu Iwan Fals itu seakan memiliki makna yang dalam ketika dikaitkan dengan perjalanan bangsa Indonesia. Bendera Merah Putih yang berkibar, bahkan ketika warnanya mulai pudar dan kainnya telah lusuh, tetap menjadi simbol bahwa kecintaan terhadap negeri tidak semestinya ditinggalkan hanya karena keadaan belum sesuai harapan.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dari tahun ke tahun terus menjadi perhatian publik. Perayaannya kerap berlangsung meriah, namun di balik kemeriahan tersebut masih ada gambaran kehidupan masyarakat yang tidak selalu sejalan dengan suasana perayaan.
Di sejumlah pelosok, masih ada masyarakat yang menjalani hari-hari tanpa kemeriahan peringatan kemerdekaan. Bahkan, ada rumah yang tidak memasang Sang Merah Putih.
Entah karena lupa, atau memang sengaja tidak memasang bendera, hal itu menjadi bagian dari wajah Indonesia yang beragam.
Namun, ada pula masyarakat yang sejak jauh-jauh hari telah mempersiapkan peringatan HUT Kemerdekaan. Bahkan sejak 31 Juli menjelang 1 Agustus, sebagian warga telah memasang bendera di halaman rumah mereka.
Ada bendera yang masih baru. Ada pula bendera yang sudah lama digunakan. Warnanya mulai pudar, kainnya lusuh, bahkan sebagian telah robek.
Bendera yang lusuh itu bisa dimaknai sebagai bentuk kecintaan yang tetap dipertahankan. Bisa juga karena keterbatasan untuk menggantinya dengan yang baru.
Namun, di situlah wajah Indonesia terlihat.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum menentu, muncul kekhawatiran bahwa bangsa ini tidak akan mampu bertahan menghadapi berbagai gelombang persoalan. Di sisi lain, harapan untuk Indonesia bangkit dan maju tetap ada.
Ada yang pesimis, tetapi tidak sedikit pula yang tetap optimistis.
Sebab keberhasilan dan kesuksesan tidak lahir dari sikap berpangku tangan. Ada kerja, perjuangan dan pengorbanan yang harus dilalui.
Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Prinsip itulah yang seharusnya menjadi semangat dalam melihat perjalanan bangsa.
Di tengah berbagai program strategis pemerintahan Prabowo, masih terdapat suara-suara pesimistis. Perbedaan pandangan tentu menjadi bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi semangat membangun negeri seharusnya tetap menjadi kepentingan bersama.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak tangan yang bergandengan daripada saling menjatuhkan.
Indonesia dibangun bukan oleh satu kelompok saja. Indonesia adalah rumah bersama dengan segala perbedaan di dalamnya.
Berbeda-beda, tetapi tetap satu.
Karena itu, lusuhnya bendera di halaman rumah kita semestinya tidak menjadi alasan untuk meninggalkan negeri ini. Justru dari keadaan yang belum sempurna itulah perjuangan untuk memperbaiki Indonesia harus terus dilakukan.
Kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana merayakannya dengan meriah, tetapi juga bagaimana menjaga harapan, bekerja dan berjuang agar kehidupan masyarakat semakin baik.
Sang Merah Putih mungkin tidak selalu berkibar dengan kain yang baru. Namun selama masih ada yang memasangnya, masih ada harapan bahwa kecintaan terhadap Indonesia belum hilang.
(Penulis : M. Ahmad/Lan/mmz03)



