BONE BOLANGO, mimoza.tv — Kemarau panjang mulai memberi tekanan serius terhadap ketersediaan air bersih di Bone Bolango. Sejumlah wilayah terdampak kekeringan, termasuk Desa Dutohe, Kecamatan Kabila, yang kini harus mengandalkan distribusi air untuk memenuhi kebutuhan warga.
Di Desa Dutohe, 182 jiwa terdampak setelah sumur masyarakat mengalami pendangkalan. Kondisi ini membuat pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari warga semakin terbatas.
Kepala Desa Dutohe, Rahmat Iswanto Idrus, mengatakan pemerintah desa telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango untuk menangani kebutuhan air bersih masyarakat.
Upaya pemenuhan kebutuhan warga dilakukan melalui penyaluran air bersih yang melibatkan BPBD Bone Bolango, PMI, dan PDAM Bone Bolango. Dalam proses penyaluran di lapangan, Bhabinkamtibmas dan Babinsa turut terlibat membantu distribusi air kepada masyarakat.
Distribusi tersebut telah berjalan sekitar tiga pekan, dengan penyaluran dilakukan setiap hari Jumat dan menyasar terutama warga di Dusun 1 dan Dusun 2. Namun, di lapangan masih terdapat kendala, salah satunya keterbatasan wadah yang dimiliki warga untuk menampung air bersih yang didistribusikan.
Rahmat menyebut, penyaluran air menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama kondisi kemarau. Di sisi lain, diperlukan pula langkah jangka panjang untuk mengantisipasi persoalan serupa.
Salah satu upaya yang diharapkan adalah pembangunan sumur bor di titik-titik yang memiliki potensi sumber air, sehingga ketersediaan air tanah dapat lebih stabil ketika musim kemarau.
“Membangun sumur bor di titik yang potensial agar pasokan air tanah tetap stabil saat kemarau,” ujar Rahmat.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menjadi beban pemerintah desa. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, pemerintah daerah terus berupaya memastikan masyarakat yang terdampak kemarau tetap mendapatkan pelayanan, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.
Penanganan krisis air bersih juga terus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, BPBD, PMI, PDAM, Bhabinkamtibmas, Babinsa hingga masyarakat.
Bagi pemerintah desa, keterlibatan semua pihak menjadi penting agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kemarau panjang. Semangat gotong royong juga dinilai menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi keterbatasan air bersih.
Dengan kolaborasi tersebut, penanganan diharapkan tidak hanya mampu menjawab kebutuhan warga saat kondisi darurat, tetapi juga menghadirkan solusi jangka panjang bagi wilayah yang rentan terdampak kekeringan.
(Lan/mmz03)



