GORONTALO, mimoza.tv – Upaya mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Gorontalo agar tak hanya bertahan, tetapi benar-benar naik kelas, kembali diuji lewat panggung besar bertajuk Gebyar UMKM 2026.
Kegiatan yang berlangsung 24–26 April 2026 di Grand Palace Convention Center ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi etalase ambisi: mempercepat UMKM Gorontalo menembus pasar nasional hingga global.
Di balik gemerlap acara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, menegaskan bahwa agenda ini tidak boleh berhenti pada euforia pameran semata.
“Gebyar UMKM ini bukan hanya ruang promosi, tetapi bagian dari upaya memperkuat ekosistem. Kita ingin UMKM Gorontalo benar-benar naik kelas dan memiliki daya saing,” ujar Bambang dalam sambutannya.
Acara ini mempertemukan banyak kepentingan: dari Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo, unsur Forkopimda, para bupati dan wakil bupati, pelaku perbankan, hingga ratusan pelaku UMKM. Sebuah komposisi yang ideal di atas kertas—namun selalu menyisakan pertanyaan klasik: sejauh mana dampaknya bertahan setelah lampu panggung padam?
Bukan Sekadar Pameran Sebanyak 235 UMKM binaan Bank Indonesia dan mitra ambil bagian dalam pameran produk unggulan. Targetnya pun tidak kecil—transaksi penjualan Rp1,5 miliar dan realisasi pembiayaan UMKM sebesar Rp2 miliar melalui skema business matching.
Namun Bambang mengingatkan, angka-angka tersebut hanyalah pintu masuk.
“Yang lebih penting adalah bagaimana UMKM bisa meningkatkan kualitas produk, masuk ke ekosistem digital, dan memiliki akses pembiayaan yang berkelanjutan,” tegasnya.
Di sisi lain, rangkaian kegiatan yang disajikan cukup padat: mulai dari festival kuliner khas Gorontalo, fashion show berbasis kearifan lokal, hingga seminar nasional dan layanan konsultasi keuangan serta digitalisasi.
Tak ketinggalan, fasilitasi perizinan usaha seperti sertifikasi halal, izin edar, hingga Nomor Induk Berusaha (NIB) juga disiapkan—sesuatu yang kerap menjadi hambatan klasik bagi UMKM untuk berkembang.
Uji Nyali Program G-20 Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah peluncuran pilot project Gorontalo-20 (G-20), sebuah program kurasi dan pendampingan intensif bagi UMKM terpilih.
Konsepnya terdengar menjanjikan: UMKM tidak hanya dibina, tetapi didorong secara sistematis agar siap masuk pasar yang lebih luas.
“Melalui G-20, kami ingin memastikan ada UMKM Gorontalo yang benar-benar siap menembus pasar nasional bahkan global,” kata Bambang.
Namun, publik tentu menunggu lebih dari sekadar peluncuran. Program seperti ini kerap kuat di awal, tetapi melemah di fase pendampingan jangka panjang.
Antara Komitmen dan Konsistensi Gebyar UMKM 2026 juga dirangkaikan dengan penandatanganan business matching, pengukuhan pengurus Dekranasda, serta kick off Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) 2026 dan Road to PENAS KTNA.
Semua terlihat lengkap. Semua terdengar strategis.
Tapi pada akhirnya, ukuran keberhasilan tetap sederhana: apakah UMKM yang hadir hari ini benar-benar tumbuh enam bulan ke depan, atau hanya kembali ke titik awal setelah acara berakhir?
Di titik ini, Bambang memberi penegasan yang sekaligus menjadi pengingat bagi semua pihak:
“Sinergi adalah kunci. Tidak bisa hanya Bank Indonesia atau pemerintah saja. Semua pihak harus bergerak bersama agar UMKM kita benar-benar kuat dan mandiri.” Tutupnya. (rls/luk)



