GORONTALO, mimoza.tv – Setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir, harga emas dunia akhirnya kehilangan tenaga pada awal pekan ini. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta memanasnya kembali situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan pergerakan logam mulia tersebut.
Pada perdagangan Senin (1/6/2026), harga emas spot tercatat turun 0,7 persen menjadi US$ 4.505,87 per ons troi. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah lebih dalam, yakni 1,2 persen ke posisi US$ 4.535,90 per ons troi.
Kondisi ini terjadi ketika pasar global tengah menghadapi dua tekanan sekaligus: penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak dunia.
Saat dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, minat beli cenderung menurun dan harga emas tertekan.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait hubungan AS dan Iran yang kembali memanas.
“Kenaikan harga minyak dan ketidakjelasan arah kesepakatan antara AS dan Iran membuat pergerakan emas kehilangan keseimbangannya pada awal pekan ini,” ujar Waterer, dikutip dari Kontan.co.id.
Timur Tengah Kembali Memanas
Ketegangan geopolitik kembali menjadi perhatian investor setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera mengambil keputusan terkait usulan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.
Namun hingga kini, kedua negara masih berbeda pandangan mengenai sejumlah isu strategis yang menjadi sumber konflik.
Situasi semakin memanas setelah militer AS dilaporkan menyerang beberapa lokasi militer Iran pada akhir pekan. Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menargetkan pangkalan militer AS.
Di saat yang sama, konflik di kawasan juga meluas. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukannya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi militer terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Padahal, gencatan senjata antara kedua pihak telah diumumkan lebih dari enam pekan lalu.
Perkembangan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak dunia yang naik lebih dari 3 persen pada perdagangan Senin.
Emas Tertekan oleh Ancaman Suku Bunga Tinggi
Naiknya harga minyak bukan hanya menambah ketidakpastian geopolitik, tetapi juga memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Dalam kondisi normal, emas sering menjadi aset pelindung nilai ketika inflasi meningkat. Namun situasinya berbeda ketika inflasi justru mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.
Karena tidak memberikan bunga atau imbal hasil, daya tarik emas biasanya berkurang ketika instrumen keuangan lain menawarkan keuntungan yang lebih besar.
Wakil Ketua Federal Reserve Bidang Pengawasan, Michelle Bowman, mengatakan dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi AS memang masih relatif terkendali. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tekanan inflasi akibat konflik tersebut berpotensi bertahan lebih lama dan dapat memicu kebijakan moneter yang lebih ketat.
Prospek Emas Masih Cerah
Meski sedang mengalami koreksi, sejumlah analis belum melihat pelemahan ini sebagai akhir dari tren kenaikan emas.
Waterer bahkan memperkirakan harga emas masih memiliki peluang untuk terus menguat hingga akhir tahun depan.
Menurutnya, harga emas berpotensi menembus level US$ 5.500 per ons troi pada akhir 2026 apabila beberapa faktor pendukung terjadi secara bersamaan, seperti pelemahan dolar AS, penurunan harga minyak dunia, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, serta meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset aman di tengah risiko geopolitik dan inflasi.
Sementara emas terkoreksi, logam mulia lainnya justru mencatat kinerja positif. Harga perak naik 0,7 persen menjadi US$ 75,80 per ons troi. Platinum menguat 1 persen ke US$ 1.935,65 per ons troi, sedangkan palladium bertambah 0,5 persen menjadi US$ 1.360,93 per ons troi.
Bagi investor, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik global. Ketika ketidakpastian meningkat, emas memang tetap menjadi aset aman. Namun dalam jangka pendek, pergerakannya masih harus berhadapan dengan kekuatan dolar AS dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Penulis: Lukman
Sumber: Kontan.co.id



