GORONTALO, mimoza.tv – Musim kemarau mulai memberikan dampak serius di sejumlah wilayah Provinsi Gorontalo. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mencatat, sedikitnya 52 desa di tiga kabupaten kini terdampak kekeringan.
Data sementara BPBD menunjukkan, kekeringan telah dirasakan oleh 6.520 kepala keluarga atau 16.758 jiwa. Dari tiga wilayah terdampak, Kabupaten Bone Bolango menjadi daerah dengan kondisi paling parah.
Tiga kabupaten yang kini menghadapi dampak kekeringan tersebut yakni Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, dan Gorontalo Utara.
Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Provinsi Gorontalo, Mohamad Tahir Laendeng, mengatakan dampak kekeringan paling terasa di wilayah yang secara geografis berada di dataran lebih tinggi. Keterbatasan sumber air membuat masyarakat di kawasan tersebut semakin membutuhkan pasokan air bersih.
“Berdasarkan pemutakhiran data sementara BPBD, sebanyak 52 desa di tiga kabupaten telah terdampak kekeringan. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kebutuhan air rumah tangga, tetapi mulai berimbas pada aktivitas pertanian,” kata Mohamad.
Sementara itu, BPBD menemukan sejumlah lahan pertanian yang baru saja ditanami mulai mengalami kekeringan. Jika kondisi ini terus berlangsung, kekurangan air berpotensi meningkatkan risiko terhadap produktivitas pertanian masyarakat.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, BPBD Provinsi Gorontalo bersama tim gabungan lintas sektor terus melakukan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Dalam satu bulan terakhir, sekitar 36 ribu liter air bersih telah disalurkan ke sejumlah lokasi yang mengalami keterbatasan pasokan air.
“Distribusi tersebut menjangkau tujuh kecamatan di Bone Bolango, enam kecamatan di Kabupaten Gorontalo, serta satu kecamatan di Gorontalo Utara.,” ujarnya.
BPBD memastikan pemantauan terhadap wilayah terdampak terus dilakukan seiring masih berlangsungnya musim kemarau. Penyaluran air bersih juga dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan wilayah yang mengalami dampak paling berat.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kekeringan tidak hanya menyangkut ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mulai menyentuh sektor pertanian yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.
BPBD mengimbau masyarakat di wilayah rawan kekeringan untuk menggunakan air secara bijak dan melaporkan apabila mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.



