Mimoza.tv – Di tengah masyarakat modern hari ini, manusia sering merasa persoalan hidup harus diselesaikan dengan logika panjang, debat tak berujung, dan pertanyaan yang kadang justru menjauh dari inti persoalan. Fenomena itu ternyata bukan hal baru.
Ribuan tahun lalu, kisah serupa sudah diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Baqarah ayat 67 hingga 73. Kisah ini bahkan menjadi alasan mengapa surah terpanjang dalam Al-Qur’an itu dinamakan “Al-Baqarah” atau “Sapi Betina”.
Sekilas, kisah tersebut tampak sederhana. Namun di baliknya tersimpan kritik tajam terhadap karakter manusia yang gemar memperumit sesuatu yang sebenarnya mudah.
Kisah bermula ketika terjadi kasus pembunuhan misterius di tengah kaum Bani Israil pada masa Nabi Musa. Situasi memanas. Mereka saling tuduh dan berusaha melempar kesalahan.
Di tengah kekacauan itu, Allah memerintahkan Nabi Musa agar kaumnya menyembelih seekor sapi betina.
Perintahnya sederhana.
Namun respons yang muncul justru penuh kecurigaan.
“Apakah engkau menjadikan kami bahan ejekan?” demikian kira-kira jawaban mereka kepada Musa.
Alih-alih langsung menjalankan perintah, mereka mulai bertanya panjang:
sapi seperti apa,
umur berapa,
warna apa,
dipakai kerja atau tidak,
cacat atau tidak.
Semakin banyak mereka bertanya, semakin sempit kriterianya. Dan semakin sulit pula sapi itu ditemukan.
Padahal jika sejak awal mereka langsung patuh, sapi mana pun sebenarnya sudah cukup.
Di sinilah letak pesan besar kisah tersebut.
Al-Qur’an seakan sedang memperlihatkan bagaimana manusia kadang menggunakan “diskusi” bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menunda ketaatan.
Fenomena seperti ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang.
Banyak orang sebenarnya tahu mana yang benar:
tahu pentingnya jujur,
tahu bahayanya korupsi,
tahu pentingnya menjaga keluarga,
tahu dampak fitnah,
bahkan tahu mana yang halal dan haram.
Namun sering kali manusia memilih memperpanjang perdebatan demi mencari celah pembenaran.
Kisah sapi betina itu menjadi kritik halus terhadap mentalitas yang sibuk pada detail, tetapi lupa pada substansi.
Ironisnya, setelah semua syarat sapi dipenuhi dan penyembelihan dilakukan, Allah kemudian memperlihatkan kekuasaan-Nya. Sebagian anggota tubuh sapi itu dipukulkan kepada mayat korban pembunuhan, lalu korban hidup sesaat dan mengungkap siapa pelakunya.
Pesan moralnya sangat kuat: kebenaran mungkin bisa disembunyikan manusia, tetapi tidak di hadapan Allah.
Ayat-ayat ini juga menjadi pengingat bahwa agama sejatinya diturunkan untuk memudahkan manusia menuju kebaikan, bukan menjadi alat untuk berdebat tanpa ujung.
Dalam banyak tafsir, sikap Bani Israil pada kisah ini dianggap sebagai simbol kerasnya hati manusia ketika diperhadapkan dengan perintah Tuhan. Mereka tidak menolak secara terang-terangan, tetapi membangkang secara halus melalui keraguan, perdebatan, dan penundaan.
Dan tanpa disadari, pola itu masih sering muncul hingga hari ini.
Orang sibuk membahas kulit persoalan, tetapi lupa menjalankan inti ajaran.
Padahal kadang, persoalan hidup tidak membutuhkan terlalu banyak debat. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk taat dan jujur kepada hati nurani.
Penulis: Lukman

