Mimoza.tv – Di tengah era ketika banyak orang tua sibuk mengejar kebutuhan hidup, sementara anak-anak tenggelam dalam layar gadget dan media sosial, Al-Qur’an ternyata sejak ribuan tahun lalu sudah menghadirkan satu konsep pendidikan keluarga yang sangat kuat, sederhana, namun mendalam.
Konsep itu terekam dalam Surah Luqman.
Bukan surah yang berbicara tentang perang besar atau kekuasaan politik. Surah ini justru menyoroti percakapan seorang ayah dengan anaknya. Percakapan yang tenang, tetapi sarat pesan tentang akhlak, iman, dan cara menjadi manusia.
Nama surah ini diambil dari Luqman, sosok yang oleh mayoritas ulama disebut bukan nabi, melainkan seorang hamba saleh yang diberi hikmah oleh Allah.
Menariknya, Al-Qur’an tidak menonjolkan kekayaan atau jabatan Luqman.
Yang diabadikan justru kebijaksanaannya.
Surah ini turun di Makkah, pada masa ketika dakwah Nabi Muhammad ﷺ menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy. Saat masyarakat Arab masih dipenuhi budaya jahiliyah, penyembahan berhala, dan kesombongan sosial.
Di tengah kondisi itu, Surah Luqman hadir bukan dengan pendekatan keras, tetapi dengan pendidikan hati.
Luqman memulai nasihatnya kepada sang anak dengan satu fondasi utama: jangan menyekutukan Allah.
Pesan ini tampak sederhana, tetapi menjadi inti seluruh pendidikan Islam. Sebab dalam pandangan Al-Qur’an, kerusakan manusia sering kali bermula ketika ia kehilangan orientasi spiritual dan merasa dirinya pusat segalanya.
Namun Surah Luqman tidak berhenti pada urusan ibadah ritual.
Ayat demi ayat justru terasa sangat dekat dengan kehidupan modern hari ini.
Luqman mengajarkan anaknya tentang:
pentingnya salat,
keberanian menegakkan kebaikan,
kesabaran menghadapi hidup,
hingga etika berbicara dan berjalan.
Bahkan nada suara ikut dibahas.
Al-Qur’an menyebut suara yang keras dan kasar seperti suara keledai. Sebuah kritik halus terhadap perilaku arogan dan kebiasaan merendahkan orang lain.
Pesan yang terasa relevan di era media sosial sekarang, ketika banyak orang lebih sibuk tampil dominan dibanding membangun adab.
Menariknya lagi, Surah Luqman juga menyinggung fenomena “lahwal hadits” atau hiburan yang melalaikan.
Sebagian ulama menafsirkan ini sebagai segala bentuk hiburan yang membuat manusia jauh dari kebenaran dan lupa kepada Allah.
Jika ditarik ke kondisi hari ini, ayat tersebut terasa seperti cermin kehidupan digital: manusia bisa berjam-jam tenggelam dalam scrolling tanpa arah, tetapi merasa berat membuka ruang untuk refleksi dan ilmu.
Surah Luqman seolah mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih bijaksana.
Karena itu, yang paling ditonjolkan dalam surah ini bukan kecerdasan intelektual, melainkan hikmah.
Dan mungkin di situlah problem besar manusia modern hari ini: informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin mahal.
Dalam Surah Luqman, pendidikan tidak dibangun dengan bentakan atau ancaman. Luqman memanggil anaknya dengan lembut: “Wahai anakku…”
Sebuah pendekatan yang hangat, namun tetap tegas pada prinsip.
Di tengah meningkatnya jarak emosional antara orang tua dan anak akibat kesibukan, gadget, hingga budaya komunikasi yang keras, Surah Luqman menghadirkan pesan sederhana: mendidik manusia tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi juga keteladanan dan kedekatan hati.
Dan mungkin karena itulah, meski turun ribuan tahun lalu, Surah Luqman tetap terasa seperti sedang berbicara langsung kepada manusia zaman sekarang.
Penulis: Lukman.


