Gorontalo, mimoza.tv – Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni kembali dipenuhi upacara, slogan kebangsaan, hingga ucapan seremonial di berbagai ruang publik. Namun di tengah gegap gempita itu, satu pertanyaan mendasar justru muncul: sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari masyarakat?
Pertanyaan itu disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Bone Bolango, Rakhmatiyah Deu, yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Srikandi Pemuda Pancasila Provinsi Gorontalo.
Menurutnya, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol negara atau sekadar jargon yang ramai diperingati setiap tahun.Baginya, tantangan terbesar bangsa hari ini bukan lagi menghafal lima sila, melainkan bagaimana nilai-nilai itu tetap bertahan di tengah kehidupan sosial yang semakin keras, cepat, dan mudah terpecah.
“Nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman dalam bersikap, bertindak, dan berinteraksi di tengah masyarakat. Dengan mengamalkannya, kita dapat menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta menciptakan kehidupan yang harmonis,” ujar Rakhmatiyah.
Ia menilai perkembangan zaman telah membawa tantangan baru terhadap kehidupan berbangsa. Arus informasi digital yang tidak terbendung, polarisasi di media sosial, hingga budaya saling menyerang karena perbedaan pandangan perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Di tengah situasi itu, Rakhmatiyah mengingatkan bahwa Pancasila sejatinya lahir untuk menjaga bangsa tetap berdiri di atas semangat persatuan, bukan permusuhan.
Menurutnya, masyarakat saat ini membutuhkan lebih banyak praktik nyata dibanding sekadar narasi kebangsaan. Nilai gotong royong, penghormatan terhadap perbedaan, hingga keadilan sosial harus benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila jangan hanya hadir saat upacara atau dipasang di baliho. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilainya tercermin dalam cara kita memperlakukan orang lain, menghargai perbedaan, dan menjaga persaudaraan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga arah kehidupan kebangsaan. Di tengah derasnya pengaruh media sosial dan perubahan budaya digital, generasi muda dinilai menjadi kelompok yang paling menentukan apakah nilai persatuan tetap bertahan atau justru semakin terkikis.
Karena itu, ia mengajak anak muda tidak terjebak pada budaya saling menjatuhkan, ujaran kebencian, maupun fanatisme sempit yang dapat memecah persaudaraan.
Sebagai Ketua DPW Srikandi Pemuda Pancasila Provinsi Gorontalo, Rakhmatiyah turut mengingatkan kader organisasi agar tidak hanya aktif dalam simbol dan atribut kebangsaan, tetapi juga hadir dalam kerja-kerja sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, organisasi kepemudaan harus mampu menjadi contoh dalam menjaga persatuan, membangun solidaritas sosial, serta ikut membantu menyelesaikan persoalan masyarakat di daerah.
“Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam kata-kata. Melalui semangat persatuan, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama, kita dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan daerah dan bangsa,” tambahnya.
Momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini, lanjutnya, harus menjadi refleksi bersama bahwa ancaman terhadap persatuan bangsa tidak selalu datang dari luar. Kadang, ancaman itu justru muncul dari kebiasaan masyarakat sendiri yang mulai kehilangan toleransi, mudah membenci, dan enggan mendengar pandangan berbeda.
Di tengah situasi sosial yang semakin sensitif, pesan Rakhmatiyah terasa sebagai pengingat bahwa menjaga Indonesia tidak selalu dimulai dari pidato besar atau seremoni megah, tetapi dari sikap sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab ketika gotong royong mulai hilang, toleransi dianggap lemah, dan perbedaan diperlakukan sebagai ancaman, maka yang perlahan memudar bukan hanya semangat Pancasila, melainkan juga wajah kebangsaan Indonesia itu sendiri. (rls/luk)



