GORONTALO, mimoza.tv – Ketika banyak perusahaan merayakan usia dengan seremoni dan angka-angka capaian bisnis, Gobel Group memilih cara berbeda saat memasuki usia ke-70 tahun. Di Gorontalo, tanah leluhur keluarga Gobel, perayaan itu diterjemahkan menjadi pembangunan ruang publik, penataan kawasan wisata, hingga investasi jangka panjang yang diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat.
Bagi Rachmat Gobel, peringatan tujuh dekade Gobel Group bukan sekadar mengenang perjalanan bisnis yang dimulai sejak 1956 oleh almarhum Thayeb Mohammad Gobel. Momentum tersebut menjadi cara keluarga Gobel mengembalikan manfaat kepada daerah yang memiliki ikatan sejarah dengan keluarganya.
“Ini adalah ungkapan terima kasih kepada masyarakat Gorontalo, pemerintah, dan leluhur saya,” kata Rachmat Gobel kepada wartawan, Sabtu (20/6/2026).
Perjalanan Gobel Group bermula ketika Thayeb Mohammad Gobel mendirikan pabrik radio transistor pertama di Indonesia. Namun, keberhasilan di sektor elektronik ternyata tidak membuat sang pendiri melupakan akar masyarakat Gorontalo yang mayoritas hidup dari sektor pertanian. Dalam dokumentasi yang ditampilkan Gobel Group pada pameran PENAS KTNA XVII di Pentadio Resort, diceritakan bagaimana Thayeb Gobel mendapat pesan dari ayahnya setelah berhasil membangun industri radio.
“Kami bangga orang Gorontalo berhasil membuat radio. Tapi saudara-saudaramu di kampung adalah petani. Kami akan lebih bangga jika kamu bisa membantu mereka mengolah tanah.”
Pesan sederhana itu kemudian menjadi filosofi yang terus diwariskan hingga generasi sekarang.Tahun 1963, Gobel Group mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor (Paditraktor) yang menghadirkan berbagai alat mekanisasi pertanian, mulai dari traktor, pengering gabah, penyemprot hama hingga mesin pengolah beras. Langkah tersebut menjadi salah satu kontribusi awal perusahaan dalam modernisasi pertanian nasional.
Selama 70 tahun, Gobel Group berkembang menjadi ekosistem bisnis yang menaungi lebih dari 25 entitas usaha dengan sekitar 18 ribu karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Bisnisnya tidak hanya bergerak di sektor elektronik, tetapi juga perdagangan dan jasa, kesehatan, makanan, manufaktur, infrastruktur, properti hingga kegiatan sosial melalui berbagai yayasan.
Di balik pertumbuhan tersebut, Gobel Group memegang filosofi pohon pisang yang diwariskan pendirinya. Filosofi itu mengajarkan bahwa setiap bagian harus memberi manfaat bagi kehidupan dan menyiapkan generasi berikutnya. Karena itu, menurut Rachmat Gobel, keberhasilan perusahaan tidak semata diukur dari keuntungan bisnis, tetapi dari manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Semangat itu terlihat dari sejumlah kawasan yang mulai dibenahi di Gorontalo. Menara Pakaya yang sebelumnya kurang tertata kini dipercantik. Kawasan Danau Perintis dibenahi. Pentadio Resort disulap menjadi destinasi yang lebih menarik bagi wisatawan. Sebelumnya, Gobel juga membangun Tamendao yang awalnya merupakan kawasan kumuh hingga menjadi salah satu ruang publik favorit masyarakat.
“Tadinya Tamendao itu kawasan yang kumuh. Setelah diperbaiki ternyata dampaknya baik bagi masyarakat. Karena itu ke depan hal-hal seperti ini yang akan terus saya benahi,” ujar Gobel.
Hal serupa juga terlihat pada kawasan Taman Limboto yang kini menjadi salah satu titik keramaian baru bagi warga. Menurut Gobel, seluruh pembenahan tersebut bukan proyek sesaat untuk menyambut Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo.
“Ini bukan hanya untuk PENAS. Ini akan berlangsung terus. Tapi tergantung pemerintah daerahnya, ke mana visinya. Kalau mereka memberi saya kepercayaan, saya kelola,” katanya.
Rachmat Gobel menilai Gorontalo masih membutuhkan lebih banyak destinasi rekreasi keluarga yang representatif. Selama ini, banyak wisatawan mengenal Gorontalo hanya karena wisata hiu paus. Padahal, ketergantungan pada satu destinasi dinilai tidak sehat bagi pengembangan pariwisata daerah.
“Bayangkan kalau orang datang ke Gorontalo hanya tahu hiu paus. Ribuan orang datang ke sana, ikannya bisa stres. Karena itu saya bicara dengan gubernur dan bupati agar beberapa kawasan wisata bisa dibenahi dan dikembangkan,” ujarnya.
Ketika ditanya kemungkinan Gobel Group mengelola penuh sejumlah destinasi wisata tersebut, Gobel mengatakan semuanya bergantung pada keputusan pemerintah daerah.
“Kalau saya diberi kesempatan mengelola, saya yakin bisa menguntungkan daerah. Bisnis itu harus menguntungkan,” tegasnya.
Di saat yang sama, Gobel Group juga sedang membangun fondasi ekonomi jangka panjang melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gorontalo dan Pelabuhan Internasional Anggrek Gorontalo International Terminal (AGIT).Melalui konsep agrominapolitan hijau dan halal, KEK Gorontalo dirancang untuk mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti jagung, kelapa, kakao, perikanan dan peternakan agar tidak lagi dijual sebagai bahan mentah. Sementara AGIT diproyeksikan menjadi gerbang logistik internasional yang menghubungkan hasil produksi Gorontalo dengan pasar nasional dan global.
Bagi Gobel, pembangunan infrastruktur, industri, pertanian dan pariwisata tidak bisa dipisahkan jika Gorontalo ingin tumbuh menjadi pusat ekonomi baru di Indonesia Timur.
Tujuh puluh tahun setelah perusahaan itu lahir dari sebuah pabrik radio transistor sederhana, Gobel Group kini mencoba meninggalkan jejak yang lebih luas. Bukan hanya membangun bisnis, tetapi juga membangun ruang hidup yang diharapkan dapat dinikmati masyarakat jauh setelah perayaan ulang tahun perusahaan itu berakhir.
Penulis: Lukman.



