Gorontalo, mimoza.tv – Inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Provinsi Gorontalo pada Februari 2026 tercatat 5,30 persen. Angka ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dr. Wathekhi, S.Si, mengatakan inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada enam kelompok pengeluaran.
“Pada Februari 2026, Provinsi Gorontalo mengalami inflasi year on year sebesar 5,30 persen yang dipicu kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran,” ujarnya.
Secara wilayah, Kota Gorontalo mencatat inflasi 4,67 persen, sementara Kabupaten Gorontalo lebih tinggi, yakni 5,81 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 17,50 persen dan andil 2,31 persen. Disusul makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,99 persen (andil 2,21 persen), serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 11,60 persen (andil 0,89 persen).
“Kelompok perumahan menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi Gorontalo,” kata Wathekhi.
Sebaliknya, lima kelompok mengalami deflasi tahunan, di antaranya perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga (-3,64 persen) serta rekreasi, olahraga, dan budaya (-1,27 persen).
Secara bulanan, Februari 2026 tercatat deflasi 0,83 persen, dengan inflasi tahun kalender (y-to-d) sebesar 1,12 persen. Cabai rawit menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,39 persen, diikuti tomat (0,20 persen), emas perhiasan (0,16 persen), dan ikan layang/benggol (0,15 persen).
Lonjakan harga sektor hunian dan pangan menjadi indikator utama tekanan biaya hidup masyarakat Gorontalo di awal 2026.
Penulis: Lukman.



