GORONTALO, mimoza.tv – Makanan tradisional Suku Polahi ternyata menyimpan lebih dari sekadar cita rasa. Di balik olahan sagu, umbut rotan hingga jamur hutan, tersimpan pengetahuan tentang alam, sejarah, hingga cara hidup masyarakat adat yang diwariskan selama berabad-abad.
Inilah yang sedang didalami tim peneliti lintas perguruan tinggi dan lembaga riset nasional melalui Ekspedisi Kekayaan Budaya Nusantara di Gorontalo. Penelitian yang menjadi bagian dari Program Hibah Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi 2025–2027 BRIN–LPDP itu berfokus mengungkap narasi budaya di balik tradisi kuliner Suku Polahi.
Ketua Tim Peneliti, Dr. Ery Iswary, M.Hum., mengatakan kuliner tradisional masyarakat adat merupakan pintu masuk untuk memahami hubungan manusia dengan alam sekaligus identitas budaya yang mereka bangun secara turun-temurun.
“Tradisi kuliner tidak hanya berbicara tentang makanan. Di balik setiap hidangan tersimpan sejarah, bahasa, pengetahuan ekologis, filosofi hidup, sistem nilai, hingga cara masyarakat menjaga keseimbangan dengan alam,” kata Ery.
Menurutnya, hilangnya satu tradisi kuliner berarti hilangnya sebagian memori peradaban bangsa.
“Ketika sebuah tradisi kuliner hilang, sesungguhnya kita juga kehilangan sebagian memori peradaban bangsa,” ujarnya.
Ekspedisi tersebut melibatkan peneliti dari Universitas Hasanuddin, BRIN, Universitas Andi Djemma Palopo, Universitas Khairun Ternate, IAIN Sultan Amai Gorontalo, Universitas Negeri Gorontalo, hingga LSP3 MATUTU. Penelitian didukung pendanaan RIIM Ekspedisi 2025–2027 yang dikelola BRIN bersama LPDP.
Selama penelitian lapangan, tim mendokumentasikan sejumlah pangan khas Suku Polahi, seperti Labia yang berbahan dasar sagu sebagai makanan pokok, Lopou Utia atau Tuna Sertan yang diolah dari umbut rotan muda, serta Wadupo, jamur hutan yang dikonsumsi pada musim tertentu.
Namun, menurut Ery, fokus utama penelitian bukan sekadar mendata jenis makanan, melainkan mengungkap pengetahuan yang hidup di balik proses pengolahan hingga pola konsumsi masyarakat adat.
“Setiap bahan pangan, teknik memasak, hingga cara mengonsumsinya merepresentasikan pengetahuan ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Tim menemukan masyarakat Polahi memiliki kemampuan mengenali berbagai tumbuhan dan jamur yang aman dikonsumsi, memahami musim kemunculan bahan pangan, serta memanfaatkan hasil hutan tanpa mengeksploitasinya secara berlebihan.
Praktik tersebut dinilai mencerminkan sistem ketahanan pangan yang dibangun berdasarkan keseimbangan dengan alam. Pengetahuan lokal seperti ini dinilai relevan dengan isu global, mulai dari konservasi keanekaragaman hayati, ketahanan pangan hingga adaptasi terhadap perubahan iklim.
Selain menghasilkan publikasi ilmiah, penelitian ini juga ditargetkan membangun basis data digital mengenai warisan budaya masyarakat adat di kawasan Wallacea serta menjadi rekomendasi bagi pemerintah dalam penyusunan kebijakan pelindungan budaya takbenda, pendidikan berbasis budaya lokal, hingga konservasi lingkungan.
Ery berharap penelitian tersebut dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap makanan tradisional.
“Makanan tradisional masyarakat adat bukan sekadar produk konsumsi, tetapi representasi sejarah, bahasa, identitas, pengetahuan ekologis, dan filosofi hidup. Karena itu, pelestariannya merupakan bagian penting dari pelestarian kebudayaan bangsa,” pungkasnya. (rls/luk)



