GORONTALO, mimoza.tv – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai membawa dampak serius bagi warga di Kabupaten Gorontalo. Sedikitnya 50 kepala keluarga di Dusun Limaa, Desa Huidu, Kecamatan Limboto Barat, kini menghadapi krisis air bersih setelah sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari mengering.
Selama hampir tiga pekan terakhir, aktivitas warga berubah drastis. Air yang biasanya mengalir dari mata air desa kini tak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Setiap tetes air menjadi sangat berharga dan harus digunakan sehemat mungkin.
Kondisi tersebut memaksa warga mengubah pola hidup. Persediaan air yang terbatas diprioritaskan untuk kebutuhan paling mendasar seperti minum, memasak, dan keperluan rumah tangga. Sementara itu, untuk mandi, sebagian warga mengaku rela menundanya hingga dua hari demi memastikan cadangan air tetap tersedia bagi seluruh anggota keluarga.
Krisis air yang melanda Dusun Limaa menjadi gambaran nyata dampak musim kemarau yang mulai meluas di sejumlah wilayah Kabupaten Gorontalo. Tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini juga mengancam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat apabila kemarau terus berlangsung.
Salah seorang warga, Isa Bilao, mengaku kesulitan memperoleh air bersih sejak mata air di desanya mengering.
“Seluruh anggota keluarga kini harus mengatur penggunaan air dengan sangat ketat agar persediaan yang ada dapat bertahan hingga bantuan air bersih kembali datang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dusun V, Yolandri, mengatakan pemerintah desa telah berupaya menangani kondisi darurat tersebut dengan berkoordinasi bersama Perumda Tirta Limutu untuk menyalurkan bantuan air bersih menggunakan dua unit mobil tangki.
“Bantuan tersebut sempat memenuhi kebutuhan warga selama beberapa hari. Namun tingginya konsumsi air masyarakat membuat distribusi air tangki belum mampu menjadi solusi jangka panjang, terlebih musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan,” kata Yolandri.



