JAKARTA, mimoza.tv – Empat UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Gorontalo mendapat panggung di Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Bukan sekadar membawa produk daerah, keikutsertaan mereka menjadi upaya mempertemukan kekayaan lokal Gorontalo dengan pasar yang lebih luas.
Keempat UMKM tersebut adalah Olami, Tiar Handycraft, Serasi Karawo, dan Bilal Mekar Snack (BMS). Mereka tampil dalam KKI 2026 yang berlangsung 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, menempatkan keikutsertaan UMKM Gorontalo dalam KKI sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing produk lokal, terutama melalui inovasi, peningkatan kualitas, dan perluasan akses pasar.
Menurut Bambang, kekuatan UMKM Gorontalo tidak hanya terletak pada produk tradisional, tetapi juga pada kemampuan pelaku usaha mengolah kekayaan lokal menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Semangat itu terlihat dari Olami yang mengembangkan sulaman karawo menjadi produk wastra dan ready-to-wear. UMKM ini melibatkan sekitar 50 perempuan pengrajin sekaligus berupaya membuat karawo lebih dekat dengan selera konsumen lintas generasi.
Langkah serupa dilakukan Tiar Handycraft. Berangkat dari pemanfaatan eceng gondok di kawasan Danau Limboto, UMKM ini mengembangkan produk ecoprint hingga memadukannya dengan karawo.
Sementara Serasi Karawo mempertahankan tradisi “Mo Karawo” melalui produk seperti jilbab dan bros, tetapi dengan pendekatan desain yang lebih adaptif.
Di sektor pangan, BMS membawa potensi hasil laut Gorontalo ke panggung nasional melalui produk seperti abon tuna, sambal ikan, abon tuna kentang, hingga panada tore.
Karawo Tak Cukup Hanya DipertahankanSalah satu yang mencuri perhatian adalah inovasi Tiar Handycraft melalui TENUKALA. Produk ini berhasil masuk 20 besar Inovasi Wastra CITRA NUSA dari 580 UMKM peserta seluruh Indonesia.TENUKALA merupakan akronim dari tenun, karawo, dan leaf art. Ketiganya dipadukan dengan kain tenun, motif karawo, leaf painting, serta sulam jelujur menjadi wastra kontemporer.
Bagi Gorontalo, inovasi semacam ini penting. Sebab tantangan pelestarian karawo bukan hanya bagaimana mempertahankan teknik sulam tradisional, tetapi juga bagaimana membuatnya tetap memiliki pasar.
Karawo yang hanya dipertahankan sebagai simbol budaya berisiko kehilangan ruang di tengah perubahan selera konsumen. Sebaliknya, ketika tradisi mampu diterjemahkan ke dalam desain dan produk baru, nilai budaya sekaligus nilai ekonominya dapat tumbuh.
Hal itu sejalan dengan semangat KKI 2026 yang mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”.Saat membuka KKI 2026, Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan penguatan UMKM ke depan bertumpu pada tiga kata kunci: bangkit, tangguh, dan berdaya saing.
“Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” ujar Destry.
KKI 2026 merupakan penyelenggaraan ke-11. Tahun ini, Bank Indonesia menggandeng 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis untuk memperluas ekosistem pengembangan UMKM.Lebih dari 550 UMKM mengikuti pameran secara luring di JICC, sedangkan lebih dari 1.300 UMKM mengikuti pameran secara daring.
Angka tersebut meningkat dibandingkan KKI 2025 yang diikuti 362 UMKM secara luring dan lebih dari 1.100 UMKM secara daring.KKI tahun ini juga menghadirkan 44 rangkaian kegiatan, mulai dari business matching pembiayaan dan ekspor, penguatan value chain, talkshow ekonomi dan keuangan inklusif, hingga showcase UMKM unggulan serta pariwisata.Bagi UMKM Gorontalo, tantangannya kemudian bukan berhenti pada tampil di JICC.
Panggung nasional hanya menjadi pintu masuk. Ujian sesungguhnya adalah apakah produk-produk tersebut mampu mempertahankan kualitas, memenuhi permintaan pasar dalam skala lebih besar, mendapatkan pembiayaan yang tepat, serta membangun jaringan pemasaran yang berkelanjutan.
Di titik inilah kehadiran UMKM Gorontalo dalam KKI 2026 menjadi lebih dari sekadar membawa nama daerah.Karawo, ecoprint, tenun, hingga olahan hasil laut sedang diuji: apakah kekayaan lokal Gorontalo hanya akan menjadi produk yang dipamerkan, atau benar-benar mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing. (rls/luk)



