GORONTALO, mimoza.tv — Menjadi bagian dari kelompok masyarakat menengah tidak selalu berarti hidup dalam kondisi ekonomi yang aman. Di tengah meningkatnya berbagai kebutuhan, sebagian masyarakat yang memiliki penghasilan tetap justru mengaku semakin kesulitan mengatur keuangan rumah tangga.
Salah satu gambaran dapat dilihat dari keluarga dengan penghasilan sekitar Rp3 juta per bulan, dengan dua anak. Pendapatan tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, listrik, transportasi, pendidikan anak, komunikasi, serta kebutuhan rumah tangga lainnya.
Dalam kondisi seperti ini, sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan dasar. Ruang untuk menabung, membayar kebutuhan tak terduga, atau membangun aset menjadi sangat terbatas.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa status “menengah” secara statistik tidak selalu berarti masyarakat merasa sejahtera secara ekonomi.
Kelompok masyarakat yang berada di tingkat menengah juga dapat mengalami tekanan ketika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak bertambah secara signifikan.
Bahkan, ketika terjadi kebutuhan mendadak seperti biaya kesehatan, pendidikan, kendaraan rusak, atau kehilangan pekerjaan, keluarga yang sebelumnya mampu memenuhi kebutuhan bulanannya dapat dengan cepat mengalami kesulitan keuangan.
Karena itu, mengukur kesejahteraan masyarakat tidak cukup hanya dengan melihat berapa banyak penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Pemerintah juga perlu memperhatikan masyarakat yang berada di atas garis kemiskinan tetapi masih rentan jatuh miskin.
Persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat tersebut miskin atau tidak, tetapi seberapa kuat kemampuan mereka bertahan ketika menghadapi kenaikan biaya hidup dan tekanan ekonomi.
Di sinilah kelompok menengah menjadi penting. Mereka mungkin tidak masuk kategori penerima bantuan sosial, tetapi pada saat yang sama belum memiliki kekuatan ekonomi yang cukup untuk menghadapi berbagai guncangan.
Pendapatan yang tetap, biaya hidup yang meningkat, dan tabungan yang terbatas akhirnya membuat sebagian masyarakat berada dalam kondisi: tidak miskin, tetapi juga belum merasa sejahtera.
(Lan/mmz03)



