GORONTALO. Mimoza.tv – Aksi sekelompok orang yang diduga penambang illegal di kawasan Desa Saripi Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo nampaknya mulai menebar aksi teror. Menyusul adanya dugaan perusakan fasilitas milik PT Pabrik Gula (PG) Gorontalo di tengah malam buta.
Insiden yang terjadi pada Senin malam, 19 Oktober 2026, itu telah dilaporkan ke Polsek Paguyaman.
Berdasarkan laporan pengaduan yang dibuat Ismail Usman, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 23.17 WITA. Saat itu, Ismail mengaku sedang berada di pos keamanan bersama rekannya, Steven Oktavianus Ratag.
Dalam pengaduannya, Ismail menyebut seorang pria bernama Hamzah yang tak lain merupakan koordinator penambang illegal di Desa Saripi datang ke pos keamanan dan kemudian melakukan aksi teror berupa ekstra gas kendaraan roda dua yang digunakannya.
Setelah itu, Hamzah disebut keluar menuju jalan Trans Sulawesi. Sekitar lima menit kemudian, Hamzah kembali ke pos keamanan bersama sekitar 50 orang. Sekelompok orang yang diduga kuat sudah termakan provokasi, menurut keterangan pelapor, kemudian berteriak dan melempari jendela gudang PT PG Gorontalo menggunakan batu.
“Tak hanya itu, pipa dan selang yang berada di gudang perusahaan juga disebut menjadi sasaran perusakan hingga menimbulkan kerugian materiil bagi PT PG Gorontalo,” kata Ismail.
Atas kejadian tersebut, Ismail mengaku langsung membuat laporan pengaduan ke Polsek Paguyaman pada 20 Oktober 2026. Kasus ini menjadi perhatian karena menyangkut keamanan fasilitas perusahaan dan dugaan perusakan yang melibatkan sekelompok orang.
Kepala Satpam PT Pabrik Gula Gorontalo Juliargi Kaminang membenarkan kejadian tersebut.
“Saat ini kami tinggal menunggu tindaklanjut dari pihak kepolisian untuk memproses sesuai hukum yang berlaku terhadap para pelaku teror dan perusakan fasilitas perusahaan. Sebab saat ini karyawan tinggal dalam perumahan kantor saripi yang juga merupakan warga desa saripi termasuk ibu-ibu dan anak-anak sangat resah dan ketakutan akibat adanya aksi teror ini. Harapannya ini menjadi atensi kepolisian karena pasti keselamatan kami terancam,”tutup Juliangi.



