GORONTALO, mimoza.tv – Perhelatan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII bukan hanya menjadi panggung bagi sektor pertanian dan perikanan nasional. Di balik hiruk-pikuk agenda besar tersebut, produk-produk unggulan UMKM Gorontalo justru tampil mencuri perhatian.
Ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia terlihat memadati kawasan Pameran Agribisnis PENAS XVII. Mereka tidak hanya ingin melihat potensi daerah, tetapi juga berburu oleh-oleh khas Gorontalo yang sulit ditemukan di tempat lain.
Upiya Karanji atau kopiah keranjang khas Gorontalo menjadi salah satu produk yang paling banyak diburu pengunjung. Bersanding dengan kain karawo yang telah lama dikenal sebagai warisan kerajinan bernilai tinggi, kedua produk itu menjadi magnet utama di stan UMKM Gorontalo.
Tak hanya produk kerajinan, berbagai pangan olahan lokal juga ikut mencatatkan penjualan yang menggembirakan. Pia Saronde, keripik panggang, stik labu hingga dabu-dabu sagela menjadi produk yang paling sering dibawa pulang peserta PENAS.
Ketua Asosiasi UMKM Kabupaten Gorontalo, Nurhayati Laudengi, mengaku antusiasme pengunjung jauh melampaui perkiraan. Pada hari pertama pelaksanaan pameran saja, nilai transaksi yang tercatat sudah menembus sekitar Rp8 juta.
“Alhamdulillah, penjualan sejak pembukaan sangat baik. Untuk produk kerajinan yang paling diminati adalah kopiah karanji dan kain karawo. Sementara produk makanan yang paling banyak dicari yaitu pia saronde, keripik panggang, stik labu dan dabu-dabu sagela,” ujarnya saat ditemui di lokasi Pameran Agribisnis PENAS XVII.
Menariknya, menurut Nurhayati, daya tarik produk Gorontalo bukan hanya terletak pada kualitas barang yang dijual. Keramahan masyarakat Gorontalo juga menjadi pengalaman tersendiri bagi para tamu yang datang dari berbagai provinsi.
Banyak peserta yang awalnya hanya berniat membeli satu atau dua produk, justru kembali datang bersama rekan-rekannya setelah merasakan pelayanan yang hangat dari para pelaku UMKM.
“Mereka mengatakan masyarakat Gorontalo sangat ramah. Baik saat berada di pemondokan maupun ketika berbelanja. Ada yang awalnya hanya membeli sedikit, kemudian kembali lagi bersama teman-temannya untuk berbelanja,” katanya.
Di tengah tingginya minat pembeli, para pelaku UMKM juga menghadapi tantangan tersendiri. Stan yang digunakan selama kegiatan PENAS ternyata tidak disediakan secara gratis. Asosiasi UMKM Kabupaten Gorontalo harus mengeluarkan biaya sewa sekitar Rp12 juta untuk mengikuti pameran tersebut.
Karena itu, sejumlah produk mengalami penyesuaian harga agar pelaku usaha tetap mampu menutupi biaya operasional selama kegiatan berlangsung.
Meski demikian, optimisme tetap tinggi. Para pelaku UMKM berharap momentum PENAS XVII tidak hanya menghasilkan transaksi jangka pendek, tetapi juga membuka pasar yang lebih luas bagi produk-produk Gorontalo.
Stan yang dikelola Asosiasi UMKM Kabupaten Gorontalo juga menjadi etalase bersama bagi pelaku usaha dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo. Beragam produk unggulan daerah dipromosikan dalam satu ruang yang sama kepada tamu dari seluruh Indonesia.
Fenomena berburu oleh-oleh khas Gorontalo bahkan tidak hanya terjadi di kawasan pameran PENAS. Di area Taman Budaya Limboto, sejumlah pedagang Upiya Karanji juga tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Berbagai model songkok khas Gorontalo itu menjadi salah satu cendera mata yang paling dicari peserta sebelum kembali ke daerah masing-masing.
PENAS XVII pun bukan sekadar ajang temu petani dan nelayan nasional. Bagi pelaku UMKM Gorontalo, momentum ini menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa produk lokal mampu bersaing, menarik minat pasar, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.



