GORONTALO, mimoza.tv – Di tengah iring-iringan prosesi pemakaman almarhum Dr. (HC) H. Rachmat Gobel di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Jumat (10/7/2026), ada satu pemandangan yang menyita perhatian banyak orang.
Keranda yang membawa putra terbaik Gorontalo itu tidak berada di dalam mobil jenazah mewah sebagaimana lazim digunakan dalam prosesi pemakaman tokoh nasional. Sebaliknya, keranda tersebut dibawa menggunakan sebuah mobil truk.
Bagi sebagian orang di luar Gorontalo, pemandangan itu mungkin memunculkan tanda tanya. Mengapa seorang tokoh nasional, pengusaha besar, sekaligus pemilik GOBEL Group, justru diantar menggunakan kendaraan yang identik dengan angkutan barang?
Jawabannya bukan terletak pada kendaraan yang digunakan, melainkan pada penghormatan terhadap adat.
Keluarga memilih mempertahankan penggunaan keranda adat Gorontalo, yang memiliki ukuran lebih besar dan penutup lebih tinggi dibanding keranda pada umumnya. Keranda itulah yang selama ini dikenal dalam tradisi pemakaman masyarakat Gorontalo.
Putra almarhum, Mohammad Arif Gobel, mengatakan pilihan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang selama hidup selalu dijunjung tinggi oleh ayahnya.
“Itu memang dari asal kami dari Gorontalo, dan almarhum itu menjunjung tinggi adat Gorontalo. Kami keluarga juga pasti melestarikan terus adat-adat Gorontalo,” ujar Arif.
Ia menjelaskan, ukuran keranda adat tersebut tidak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam mobil jenazah biasa.
“Ya itu kan ada size (ukurannya lebih besar),” katanya.
Bagi keluarga Gobel, menjaga keutuhan bentuk keranda adat menjadi bagian dari penghormatan terakhir kepada almarhum.
Di tengah berbagai pilihan yang tersedia, termasuk kemungkinan menggunakan kendaraan lain atau menyesuaikan perlengkapan pemakaman, keluarga tetap mempertahankan keranda adat Gorontalo sebagaimana mestinya. Konsekuensinya, mobil truk menjadi kendaraan yang paling memungkinkan mengantarkan keranda hingga ke tempat peristirahatan terakhir.
Pilihan itu menjadi pesan yang sederhana, tetapi sarat makna. Bahwa penghormatan terhadap adat tidak diukur dari kemewahan kendaraan yang mengantar jenazah, melainkan dari kesungguhan menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur.
Bagi masyarakat Gorontalo, mobil truk yang mengantar keranda Rachmat Gobel bukan sekadar kendaraan pengangkut. Ia menjadi simbol bahwa hingga perjalanan terakhirnya, Kakak RG tetap pulang bersama identitas yang selama hidup ia jaga dan banggakan: adat dan budaya Gorontalo.
Penulis: Lukman



