GORONTALO, mimoza.tv – Ada banyak cara mengenang seorang tokoh. Ada yang mengingat jabatannya, ada yang mengingat pidatonya, dan ada pula yang mengingat kekayaannya.
Namun ketika kabar wafatnya Dr. (HC) H. Rachmat Gobel datang pada Jumat (10/7/2026), ingatan banyak orang di Gorontalo justru kembali pada satu pertanyaan yang berulang kali ia lontarkan selama bertahun-tahun. Mengapa Gorontalo yang kaya sumber daya alam masih bergulat dengan kemiskinan?
Pertanyaan itu bukan sekadar kritik. Ia menjadikannya sebagai arah perjuangan. Sejak dipercaya sebagai Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) periode 2019–2024, Rachmat Gobel nyaris tidak pernah melepaskan Gorontalo dari setiap gagasan yang ia perjuangkan di tingkat nasional. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu berbicara tentang pembangunan yang menghadirkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Baginya, kemajuan daerah tidak cukup diukur dari banyaknya proyek yang berdiri. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pembangunan mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Karena itu, ia lebih sering berbicara tentang ekosistem pembangunan. Petani tidak cukup hanya diberi benih. Hasil panen tidak cukup hanya diproduksi. Komoditas daerah harus diolah, diberi nilai tambah, kemudian dipasarkan agar manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat.
Gagasan itu kemudian ia wujudkan melalui berbagai program di Gorontalo. Mulai dari pengembangan padi organik, budidaya singkong super, pengembangan kakao di Pohuwato hingga menjadi bahan baku cokelat premium, pengembangan kacang Tilihuwa, penanaman ribuan bambu petung, hingga mendorong lahirnya kawasan industri dan pelabuhan internasional sebagai pintu ekspor Indonesia Timur.
Benang merah dari semua program tersebut hanya satu. Gorontalo tidak boleh selamanya menjual bahan mentah.
Dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu, Rachmat Gobel pernah menyampaikan cita-cita yang hingga kini masih terngiang. Ia ingin Gorontalo keluar dari kelompok daerah termiskin di Indonesia. Bahkan lebih jauh, ia berharap suatu saat Gorontalo mampu menjadi salah satu daerah paling maju di Tanah Air.
Sebagian orang mungkin menganggap cita-cita itu terlalu tinggi. Namun siapa pun yang mengikuti perjalanan Rachmat Gobel tahu, ia bukan tipe pemimpin yang berhenti pada pidato. Ia memilih bekerja.
Ketika berbicara tentang pertanian, ia turun ke sawah. Saat berbicara tentang industri, ia menghubungkan daerah dengan investor. Ketika berbicara tentang ekspor, ia membuka jejaring hingga pasar internasional. Dan ketika berbicara tentang politik, ia selalu mengingatkan bahwa politik tidak boleh berhenti pada retorika. Yang dibutuhkan adalah kerja nyata.
Sebagai tokoh politik, tentu tidak semua orang selalu sejalan dengan pandangannya. Perbedaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Namun satu hal yang sulit dibantah adalah konsistensinya memperjuangkan Gorontalo.
Bahkan pada masa-masa terakhir hidupnya, menurut kesaksian para tokoh adat, ia masih memikirkan berbagai program pembangunan dan upaya menghadirkan dukungan pemerintah pusat bagi daerah ini. Ia lebih banyak berbicara tentang masa depan Gorontalo daripada kepentingan dirinya sendiri.
Barangkali karena alasan itulah, hanya beberapa jam setelah kabar wafatnya, para pemangku adat dari lima negeri adat di Gorontalo berkumpul dalam Sidang Adat dan mengambil sebuah keputusan bersejarah.
Mereka menganugerahkan gelar adat “Ta Lo’o Lamahe Lipu” kepada almarhum. Bukan sekadar gelar penghormatan. Dalam falsafah adat Gorontalo, Ta Lo’o Lamahe Lipu bermakna sosok yang mengabdikan jiwa, raga, pikiran, bahkan hartanya demi memakmurkan negeri.
Gelar itu bukan hanya menjadi doa bagi almarhum, tetapi juga menjadi pesan moral bagi generasi yang masih hidup. Bahwa kemuliaan seseorang bukan semata diukur dari jabatan yang pernah disandang atau kekayaan yang dimiliki, melainkan dari manfaat yang ditinggalkannya bagi masyarakat.
Kini Rachmat Gobel telah berpulang. Namun gagasan yang ia tinggalkan masih hidup. Ia meninggalkan lebih dari sekadar perusahaan, jabatan, ataupun catatan politik. Ia meninggalkan keyakinan bahwa Gorontalo bisa lebih maju, bahwa hasil bumi harus memberi kesejahteraan bagi rakyatnya, dan bahwa pembangunan hanya akan berhasil jika semua pihak bersedia bekerja bersama. Mungkin itulah makna terdalam dari gelar yang kini melekat pada namanya.
Ta Lo’o Lamahe Lipu. Sosok yang mengabdikan hidupnya untuk kemakmuran negeri.
Selamat jalan, Kakak RG. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala dosa dan khilafmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Warisanmu kini bukan hanya dikenang dalam sejarah politik dan pembangunan, tetapi juga telah diabadikan dalam kehormatan tertinggi adat Gorontalo.
Redaksi.



