GORONTALO, mimoza.tv – Berdasarkan proyeksi kependudukan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026, Kota Gorontalo mencatatkan fenomena demografi yang cukup unik. Meski memiliki volume populasi terkecil di antara ibu kota provinsi lainnya di Pulau Sulawesi, kota berjuluk “Kota Serambi Madinah” ini justru menempati urutan kedua sebagai wilayah urban dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di pulau tersebut.
Merujuk pada rilis data kependudukan BPS per Februari 2026, total penduduk Kota Gorontalo mencapai 212,5 ribu jiwa, atau menyerap sekitar 16,91 persen dari total populasi Provinsi Gorontalo yang berjumlah 1.256,5 ribu jiwa. Menariknya, dengan keterbatasan luas wilayah yang hanya berkisar 79 kilometer persegi, angka Kepadatan Penduduk Kasar (Crude Population Density) di Kota Gorontalo menembus 3.000 jiwa per kilometer persegi.
Angka tersebut menempatkan Kota Gorontalo berada di posisi kedua se-Sulawesi, tepat di bawah Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang memimpin dengan kepadatan di atas 8.000 jiwa per kilometer persegi. Tingkat kerapatan spasial di Kota Gorontalo ini tercatat melampaui Kota Manado (Sulawesi Utara) yang berada di kisaran 2.900 jiwa per kilometer persegi, serta jauh di atas Kota Kendari (Sulawesi Tenggara) dan Kota Palu (Sulawesi Tengah).
Di tingkat regional Provinsi Gorontalo sendiri, distribusi penduduk masih memperlihatkan ketimpangan yang mencolok. Kabupaten Gorontalo tetap menjadi wilayah dengan basis populasi terbesar, yakni dihuni oleh 417,7 ribu jiwa (33,24 persen). Sebaliknya, Kabupaten Gorontalo Utara menjadi daerah dengan jumlah penduduk paling sedikit, yaitu 136,9 ribu jiwa (10,89 persen). Namun, Gorontalo Utara justru mencatatkan laju pertumbuhan penduduk per tahun tertinggi di provinsi ini, mencapai 1,53 persen.
Fenomena menarik lainnya dari struktur sosial Kota Gorontalo adalah rasio jenis kelamin (sex ratio) yang berada di angka 99,4. Angka di bawah 100 ini mengindikasikan bahwa jumlah penduduk perempuan di wilayah perkotaan ini sedikit lebih dominan dibandingkan laki-laki. Pola ini serupa dengan kota-kota besar lain seperti Makassar, di mana pusat urban yang mengandalkan sektor jasa, perdagangan retail, serta sektor pendidikan tinggi cenderung menarik migrasi penduduk perempuan usia produktif.
Tingginya tingkat kepadatan yang mencapai 3.000 jiwa per kilometer persegi ini menjadi sinyal penting bagi pemangku kebijakan di daerah. Manajemen tata ruang, pemeliharaan daya dukung lingkungan, penyediaan fasilitas publik, hingga antisipasi munculnya kawasan kumuh perkotaan (slum area) memerlukan perhatian khusus agar dinamika pertumbuhan penduduk di Kota Gorontalo tetap berjalan selaras dengan peningkatan kualitas hidup warganya.
Penulis: Lukman
Sumber Data: Diolah dari tabel statistik kependudukan terbaru di laman resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo.



