GORONTALO, mimoza.tv – Hujan turun lagi. Air naik lagi. Warga kembali sibuk menyelamatkan barang-barang di dalam rumah. Beberapa ruas jalan kembali dipenuhi genangan. Setelah air surut, aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Sampai musim hujan berikutnya datang lagi.
Pemandangan seperti ini terasa semakin akrab di Kota Gorontalo. Bahkan beberapa titik genangan seolah sudah memiliki pola yang mudah ditebak setiap kali hujan deras mengguyur cukup lama.
Pertanyaannya mungkin sederhana: apakah kita mulai terlalu terbiasa dengan keadaan seperti ini?
Banjir memang tidak selalu bisa dihindari sepenuhnya, apalagi di tengah perubahan cuaca yang makin sulit diprediksi. Namun ketika genangan terus muncul di lokasi yang sama dari waktu ke waktu, tentu ada hal yang patut direnungkan bersama.
Diskusi soal banjir perkotaan biasanya berputar pada dua hal: kapasitas infrastruktur drainase dan kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan lingkungan sekitar.
Di satu sisi, kota terus berkembang. Permukiman bertambah padat, lahan terbuka semakin berkurang, sementara volume air hujan yang harus dialirkan juga semakin besar. Di sisi lain, saluran air di beberapa kawasan tampak belum sepenuhnya mampu mengikuti perubahan tersebut.
Namun persoalan ini juga tidak sepenuhnya bisa dibebankan pada infrastruktur semata.
Mimoza.tv beberapa kali memuat laporan mengenai tumpukan sampah di saluran air maupun sungai kecil di kawasan permukiman. Pemandangan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Plastik, botol minuman, hingga limbah rumah tangga kadang masih mudah ditemukan di aliran drainase.
Kadang kita berharap drainase bekerja seperti jalan tol bagi air hujan. Padahal, sebagian saluran justru tampak lebih sibuk menampung sampah daripada mengalirkan air.
Tentu tidak adil jika seluruh persoalan banjir dibebankan kepada masyarakat. Sebab persoalan perkotaan memang jauh lebih kompleks. Ada aspek tata ruang, kapasitas drainase, sedimentasi saluran, hingga perubahan kawasan resapan yang semuanya saling berkaitan.
Namun di tengah kompleksitas itu, kesadaran bersama tetap menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan.
Sebab banjir perkotaan sering kali bukan muncul karena satu kesalahan besar, melainkan akumulasi dari banyak kebiasaan kecil yang berlangsung cukup lama.
Yang menarik, setiap kali banjir datang, media sosial biasanya ramai dengan foto genangan dan keluhan warga. Tetapi beberapa hari setelah air surut, perhatian terhadap saluran air, sampah, maupun lingkungan sekitar sering ikut surut bersamanya.
Lalu kota ini kembali berjalan seperti biasa. Sampai hujan deras datang lagi.
Mungkin yang perlu dipikirkan bersama bukan sekadar bagaimana menghadapi banjir hari ini, tetapi bagaimana mengurangi kemungkinan agar kejadian yang sama tidak terus berulang di masa mendatang.
Kota yang baik bukan hanya kota yang cepat membangun jalan dan gedung, tetapi juga kota yang mampu mengelola air dan menjaga kesadaran warganya secara bersama-sama.
REDAKSI.



