MIMOZA.TV – Penerapan biodiesel B50 yang mulai diberlakukan pada Juli 2026 memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan pemilik kendaraan bermesin diesel. Salah satu yang paling banyak menjadi perhatian adalah apakah penggunaan B50 akan membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros dibandingkan B35.
Kekhawatiran tersebut muncul karena peningkatan kandungan biodiesel dari B35 menjadi B50 dinilai dapat memengaruhi karakteristik bahan bakar, termasuk nilai kalor yang berpengaruh terhadap efisiensi pembakaran dan jarak tempuh kendaraan.
Dikutip dari GridOto.com, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa secara teori penggunaan B50 memang berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar.
“Pasti akan lebih boros, karena FAME itu heating value-nya memang lebih kecil,” kata Jayan.
FAME (Fatty Acid Methyl Ester) merupakan komponen biodiesel yang memiliki nilai kalor lebih rendah dibandingkan solar berbasis fosil. Akibatnya, energi yang dihasilkan dari setiap liter bahan bakar juga menjadi sedikit lebih kecil.
Pendapat serupa disampaikan Iwan, pemilik bengkel Iwan Honda Auto Solo, sebagaimana dikutip Kompas.com. Menurutnya, secara teori penurunan nilai kalor pada B50 memang dapat membuat konsumsi bahan bakar sedikit meningkat.
“Secara teori nilai kalor pada B50 lebih rendah daripada B35, pastinya sedikit akan lebih boros,” ujarnya.
Meski demikian, Iwan menilai dampak tersebut tidak selalu akan dirasakan secara signifikan oleh pengguna kendaraan. Menurutnya, hasil akhirnya sangat bergantung pada kesiapan teknologi mesin yang digunakan masing-masing pabrikan.
Ia menjelaskan, apabila produsen kendaraan telah melakukan penyempurnaan sistem pembakaran dan pengaturan mesin agar sesuai dengan karakteristik B50, maka potensi peningkatan konsumsi bahan bakar dapat diminimalkan.
“Kalau pabrikan sudah ada pengembangan ke arah B50 diharapkan itu tidak terjadi,” tambahnya.
Dengan demikian, penggunaan biodiesel B50 secara teori memang memiliki potensi membuat konsumsi bahan bakar sedikit lebih tinggi karena nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan B35. Namun, dalam praktiknya, besarnya pengaruh tersebut akan sangat ditentukan oleh teknologi mesin dan hasil pengembangan yang dilakukan masing-masing produsen kendaraan.
Pemerintah sendiri mulai mendorong penggunaan B50 sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Penulis: Lukman



