GORONTALO, mimoza.tv — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (5/5/2026). Rupiah tercatat di level Rp17.407 per USD, turun 13 poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.394.
Secara persentase, pelemahan ini relatif kecil, sekitar 0,075 persen. Namun, jika dilihat dalam beberapa hari terakhir, pergerakan rupiah menunjukkan kecenderungan melemah secara bertahap.
Dikutip mimoza.tv dari Goodstats.id, berdasarkan data Trading Economics, posisi rupiah pada pukul 09.10 WIB berada di Rp17.407 per dolar AS. Angka ini melanjutkan pola fluktuasi dalam sepekan terakhir yang cenderung bergerak ke arah depresiasi.
Pada 21 April 2026, rupiah masih berada di kisaran Rp17.141 per USD. Setelah itu, nilai tukar bergerak naik-turun, namun belum menunjukkan penguatan yang konsisten.
Di pasar global, dolar AS masih berada dalam tren menguat. Indeks dolar tercatat naik sekitar 0,15 persen ke level 98,52. Kondisi ini mendorong investor global untuk menempatkan dana pada aset berbasis dolar, sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di atas US$110 per barel ikut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Bagi Indonesia, kondisi ini berdampak pada meningkatnya beban impor energi.
Dari sisi domestik, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga. Bank sentral diketahui mempertahankan suku bunga acuan sejak Oktober 2025. Kebijakan ini dinilai belum cukup kuat untuk meredam tekanan eksternal, sehingga respons pasar cenderung terbatas.
Sementara itu, data sektor perdagangan menunjukkan adanya perlambatan. Ekspor pada Maret tercatat menurun setelah sebelumnya tumbuh dalam beberapa bulan. Di sisi lain, pertumbuhan impor juga relatif rendah.
Kondisi ini mencerminkan permintaan yang belum pulih sepenuhnya, baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Kenaikan harga bahan bakar non-subsidi juga disebut turut memengaruhi daya beli masyarakat.
Pelaku pasar saat ini juga menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I. Sejumlah proyeksi menunjukkan adanya potensi perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Faktor lain yang ikut menjadi perhatian adalah posisi cadangan devisa. Data terakhir menunjukkan cadangan devisa Indonesia berada pada level terendah dalam hampir dua tahun. Hal ini dapat memengaruhi ruang intervensi otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Di sisi lain, inflasi April tercatat sebesar 2,42 persen, atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, risiko dari faktor global, termasuk ketegangan geopolitik dan harga energi, masih menjadi variabel yang diperhatikan pasar.
Pergerakan rupiah saat ini menunjukkan bahwa tekanan tidak datang dari satu faktor saja, melainkan kombinasi kondisi global dan domestik. Dalam situasi seperti ini, arah pergerakan nilai tukar cenderung mengikuti dinamika eksternal, dengan respons yang bergantung pada kondisi fundamental di dalam negeri.
Penulis: Lukman



