GORONTALO, mimoza.tv — Angkanya 72,56. Terlihat biasa. Tapi maknanya tidak sesederhana itu. Dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi, Gorontalo masuk kategori rentan terhadap praktik korupsi.
Ini bukan soal peringkat siapa paling bersih. SPI berbicara soal persepsi—bagaimana masyarakat, pelaku usaha, dan aparatur melihat integritas layanan publik. Sederhananya, ini soal rasa percaya.
Beberapa tahun lalu, Gorontalo sempat berada di posisi yang cukup baik. Tapi kini, nilainya turun. Statusnya berubah. Dari yang relatif aman, bergeser ke zona yang perlu diwaspadai serius.
Di lapangan, tanda-tanda itu bukan tanpa jejak.
Sejumlah perkara yang ditangani di wilayah Gorontalo Utara dalam beberapa waktu terakhir ikut menyita perhatian. Proses hukum yang berjalan—baik penyelidikan maupun penyidikan—setidaknya menunjukkan bahwa potensi masalah itu memang ada, bukan sekadar dugaan di atas kertas.
Di sisi lain, peran aparat penegak hukum juga ikut disorot. Kejaksaan Tinggi Gorontalo misalnya, tengah menangani sejumlah perkara yang berkaitan dengan proyek dan pengelolaan anggaran. Publik pun mulai bertanya: ini bagian dari pembenahan, atau justru bukti bahwa pengawasan selama ini longgar?
Namun, satu hal perlu digarisbawahi. SPI bukan data penindakan. Ini bukan hitungan berapa kasus korupsi yang terjadi, atau berapa orang yang ditangkap. SPI mengukur pengalaman dan penilaian. Tapi justru di situlah letak pentingnya.
Karena ketika persepsi publik mulai berubah, biasanya ada pengalaman yang melatarbelakanginya. Bisa karena layanan yang berbelit, transparansi yang tidak jelas, atau kebiasaan-kebiasaan kecil yang lama-lama dianggap wajar.
Label rentan seharusnya tidak membuat panik. Tapi juga tidak boleh dianggap sepele.
Alarm bahwa integritas tidak cukup dijaga lewat slogan.
Alarm bahwa pengawasan internal harus benar-benar berjalan, bukan sekadar formalitas.
Dan alarm bahwa kepercayaan publik, sekali turun, tidak mudah dikembalikan.
Jadi persoalannya bukan lagi sekadar angka 72,56.
Pertanyaan besarnya: apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik angka itu?
Apakah penegakan hukum yang mulai terlihat adalah tanda sistem mulai bekerja?
Atau justru sinyal bahwa selama ini ada yang terlewat?
Jawabannya tidak akan ditemukan dalam satu grafik.
Tapi satu hal yang jelas, angka ini bukan sekadar data. Ini cermin. Dan cermin tidak pernah berbohong—ia hanya memantulkan apa yang ada di depannya.
Penulis: Lukman.



