GORONTALO, mimoza .tv — Di tengah optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan berada di kisaran 5 persen pada 2026, persoalan daya beli masyarakat, ketimpangan pendapatan, serta efektivitas program sosial masih menjadi perhatian serius.
Dikutip Mimoza.tv dari International Monetary Fund, ekonomi Indonesia dinilai tetap cukup tangguh dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5,1 persen, didukung inflasi yang relatif terkendali dan stabilitas sektor keuangan. Namun, IMF juga mengingatkan bahwa tekanan global, volatilitas harga energi, dan kebijakan fiskal domestik tetap dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Meski secara makroekonomi pertumbuhan terlihat menjanjikan, kondisi di lapangan menunjukkan tantangan berbeda. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya energi, serta tekanan terhadap kelas menengah membuat banyak masyarakat belum sepenuhnya merasakan manfaat pertumbuhan tersebut.
Persoalan mendasar bukan lagi sekadar pertumbuhan angka Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi bagaimana distribusi manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat luas, terutama kelompok berpenghasilan rendah dan pekerja sektor informal.
Dikutip Mimoza.tv dari World Bank, proyeksi pertumbuhan Indonesia bahkan dapat terkoreksi menjadi sekitar 4,7 persen apabila tekanan global meningkat, menunjukkan bahwa ekonomi nasional masih menghadapi tantangan struktural yang signifikan.
Program sosial pemerintah seperti subsidi energi, bantuan pangan, dan perlindungan sosial tetap menjadi instrumen penting menjaga stabilitas masyarakat. Namun, efektivitas penyalurannya terus menjadi sorotan, terutama terkait ketepatan sasaran, beban anggaran negara, dan potensi politisasi bantuan sosial.
Bagi publik, pertumbuhan ekonomi tinggi tentu menjadi kabar positif. Namun bagi masyarakat kecil, ukuran kesejahteraan lebih sederhana: harga terjangkau, pekerjaan stabil, dan penghasilan yang cukup.
Jika pertumbuhan ekonomi hanya kuat di indikator makro tetapi daya beli rakyat masih tertekan, maka pertanyaan besar tetap relevan: siapa sebenarnya yang paling menikmati pertumbuhan tersebut?
Di tengah narasi besar menuju Indonesia Emas 2045, kualitas pertumbuhan ekonomi menjadi ujian sesungguhnya—apakah benar memperkuat kesejahteraan rakyat, atau sekadar mempercantik statistik nasional.
Penulis: Lukman.



