GORONTALO, mimoza.tv – Kepergian Rachmat Gobel pada Jumat dini hari, 10 Juli 2026, menjadi duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan dunia politik nasional, tetapi juga bagi masyarakat Gorontalo yang selama puluhan tahun merasakan jejak pengabdiannya.
Rachmat Gobel wafat pada pukul 03.20 WIB di Jakarta dalam usia 63 tahun. Jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Supomo Nomor 55A, Jakarta Selatan, sebelum diberangkatkan untuk dimakamkan di tanah kelahirannya, Gorontalo, sebagaimana keinginan keluarga. Hingga berita ini diturunkan, lokasi pemakaman secara rinci masih menunggu penyampaian resmi dari pihak keluarga.
Namun sesungguhnya, yang ditinggalkan Rachmat Gobel bukanlah sekadar jabatan sebagai anggota DPR RI, mantan Menteri Perdagangan, ataupun pengusaha nasional. Ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar: cinta rakyat Gorontalo.
Barangkali selama hidupnya tidak semua kebaikan itu dipublikasikan. Tidak semua bantuan diumumkan. Tidak semua pengorbanan diceritakan. Tetapi justru setelah beliau berpulang, satu per satu kisah itu bermunculan dari masyarakat.
Ada yang mengenang bantuan pendidikan yang diterimanya. Ada yang menceritakan bagaimana usaha kecilnya pernah dibantu. Ada yang mengingat perhatian beliau terhadap petani, nelayan, pelaku UMKM, rumah ibadah, hingga generasi muda Gorontalo. Banyak di antaranya dilakukan tanpa sorotan kamera dan tanpa mencari pujian.
Semua itu berawal dari pesan sederhana yang selalu dipegang teguh Rachmat Gobel dari sang ayah.
“Pulanglah. Mengabdilah. Perbaikilah kampung halamanmu ketika engkau sudah sukses.” Pesan itu tidak berhenti menjadi nasihat. Ia menjadikannya sebagai jalan hidup.
Meski membangun karier hingga tingkat nasional dan memimpin perusahaan besar, Rachmat Gobel tidak pernah memutus ikatan dengan tanah kelahirannya. Gorontalo bukan sekadar daerah pemilihan baginya, melainkan rumah yang harus terus dibangun.
Berbagai program pemberdayaan ekonomi, bantuan kemanusiaan, dukungan terhadap UMKM, pengembangan pendidikan, hingga perjuangan membawa investasi dan memperjuangkan berbagai kepentingan Gorontalo di tingkat nasional menjadi bagian dari pengabdian panjangnya.
Karena itulah, kabar wafatnya langsung disambut gelombang doa dan ungkapan kehilangan dari berbagai kalangan. Bukan hanya tokoh politik, tetapi juga masyarakat biasa yang merasa pernah disentuh oleh kebaikan almarhum.
Banyak yang baru menyadari bahwa begitu banyak jejak pengabdian Rachmat Gobel yang selama ini berjalan dalam diam.
Ia memilih bekerja daripada berbicara. Memilih memberi daripada memperlihatkan. Memilih hasil daripada popularitas.
Kini, sosok itu telah berpulang. Namun cinta rakyat Gorontalo menjadi bukti bahwa pengabdian yang tulus tidak pernah benar-benar berakhir. Ia akan terus hidup dalam kenangan masyarakat, dalam berbagai perubahan yang pernah ia perjuangkan, dan dalam doa-doa yang mengiringi kepergiannya.
Rachmat Gobel telah kembali kepada Sang Pencipta. Tetapi bagi Gorontalo, ia akan selalu dikenang sebagai putra daerah yang tidak melupakan kampung halamannya—seorang anak yang menunaikan pesan ayahnya dengan sepenuh hati: pulang, mengabdi, dan memperbaiki tanah kelahirannya.
Penulis : M. Ahmad



