GORONTALO, mimoza.tv – Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Gorontalo, Kamis (25/9/2026).Suasana tersebut menjadi bagian dari kegiatan khatam Al-Qur’an yang diikuti warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan kerohanian selama menjalani masa pemasyarakatan.
Kegiatan itu tidak sekadar menandai selesainya bacaan Al-Qur’an. Bagi pihak Lapas, momentum tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses warga binaan untuk memperkuat keimanan, memperbaiki diri, sekaligus membangun karakter sebelum kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Gorontalo, Junaidi Rison, mengatakan pembinaan kerohanian memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian warga binaan.
“Kegiatan khatam Al-Qur’an ini bukan hanya tentang menyelesaikan bacaan, tetapi bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Junaidi.
Menurutnya, Lapas akan terus memberikan ruang bagi kegiatan positif yang dapat mendukung proses pembinaan warga binaan.Ia berharap kebiasaan membaca dan mempelajari Al-Qur’an tidak berhenti setelah warga binaan menyelesaikan masa pembinaannya di Lapas.
“Kami ingin setiap proses pembinaan yang dijalani di Lapas memberikan bekal yang bermanfaat ketika mereka kembali ke masyarakat. Semoga semangat membaca Al-Qur’an ini terus dipertahankan dan menjadi bagian dari kehidupan mereka, bukan hanya selama berada di dalam Lapas,” cetusnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik, Untung Zakaria, menilai khatam Al-Qur’an menjadi salah satu gambaran dari proses pembinaan kepribadian yang dilakukan secara berkelanjutan.Ia mengapresiasi warga binaan yang mengikuti pembinaan Al-Qur’an hingga menyelesaikan bacaannya.
“Ini menunjukkan adanya kemauan untuk belajar, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Untung.
Namun, menurutnya, khatam Al-Qur’an bukanlah akhir dari proses tersebut.Ia berharap warga binaan tetap menjaga kebiasaan membaca Al-Qur’an, kemudian berupaya memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Harapan kami, setelah khatam ini mereka tetap istiqamah. Jangan berhenti membaca Al-Qur’an, tetapi terus belajar memahami dan mengamalkan kandungannya. Mudah-mudahan pembinaan ini menjadi bekal ketika mereka nantinya kembali ke keluarga dan lingkungan masyarakat,” pungkasnya.
Pembinaan keagamaan sendiri telah menjadi salah satu bagian dari program pembinaan warga binaan di Lapas Gorontalo. Sebelumnya, kegiatan membaca Al-Qur’an, tadarus dan pembelajaran agama juga rutin dilakukan di lingkungan Lapas. (rls/luk)



