GORONTALO, mimoza.tv – Di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis yang menantang, para petani kopi di Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, terus berupaya membawa kopi dari kawasan terisolir itu menembus pasar yang lebih luas.
Salah satunya adalah Yasin Gaib, petani kopi Pinogu yang telah lama merasakan sulitnya memasarkan hasil perkebunan dari wilayah tersebut.
Dahulu, pemasaran kopi menjadi perjalanan panjang bagi para petani. Hasil panen harus diangkut menggunakan kuda menuju Kecamatan Suwawa. Jarak yang harus ditempuh mencapai puluhan kilometer, dengan medan yang tidak mudah.
Kini, perkembangan teknologi digital perlahan mengubah cara petani memperkenalkan kopi Pinogu.
Internet menjadi salah satu jalur yang dimanfaatkan Yasin dan para petani lainnya untuk menjangkau konsumen di luar Kecamatan Pinogu. Promosi dan pemasaran dilakukan secara daring melalui berbagai platform digital, sehingga petani tidak selalu harus meninggalkan wilayahnya untuk mencari pembeli.
Bagi Yasin, pemanfaatan teknologi digital membuka peluang baru. Kopi yang sebelumnya hanya dikenal di sekitar wilayah Pinogu kini memiliki kesempatan untuk diperkenalkan kepada konsumen yang lebih luas.
Hal senada disampaikan Ketua Asosiasi Kopi Pinogu, Nurdin Maini. Menurutnya, keberadaan jaringan internet memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam memperkenalkan dan memasarkan kopi Pinogu melalui media sosial.
Namun, kemudahan pemasaran melalui internet belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan yang dihadapi petani.
Distribusi kopi dari Pinogu masih menjadi tantangan. Para petani masih mengandalkan jasa ojek motor untuk membawa produk menuju titik pengiriman, sebelum kemudian diteruskan kepada konsumen maupun distributor.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perjalanan kopi Pinogu menuju pasar yang lebih luas bukan hanya soal kualitas dan pemasaran, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat keluar dari wilayah penghasilnya.
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mengatakan, pemasaran kopi Pinogu saat ini sudah berjalan dengan baik, meski produksi kopi masih dilakukan dalam skala rumah tangga.
Ia berharap kopi Pinogu semakin dikenal dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar dunia.
Dari kawasan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses, para petani Pinogu menunjukkan bahwa keterisolasian tidak harus menjadi batas untuk berkembang.
Jika dahulu kopi Pinogu harus menempuh puluhan kilometer dengan kuda untuk mencari pasar, kini internet membuka jalan baru bagi petani untuk memperkenalkan hasil kebun mereka.
Di tengah akses jalan yang masih menjadi tantangan, kopi Pinogu justru menemukan jalannya sendiri menuju pasar.



