JAKARTA, mimoza.tv – Langkah ekspansi industri pangan berbasis kemitraan kembali diperkuat. Chairman Gobel Group, Rachmat Gobel, mendorong pembangunan ekosistem terintegrasi dari petani hingga industri melalui investasi senilai Rp 1,4 triliun oleh Chateraise Gobel Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Gobel saat peletakan batu pertama pabrik kedua Chateraise di Bekasi, Jawa Barat, Senin (13/4/2026). Pabrik ini melengkapi fasilitas produksi sebelumnya di Bogor yang telah beroperasi sejak 2017.
Menurut Gobel, investasi tersebut tidak semata-mata untuk memperluas produksi kue dan pangan olahan, tetapi membangun keterhubungan antara sektor pertanian dan industri dalam satu ekosistem yang utuh.
“Konsepnya farm to factory. Jadi petani, industri, dan konsumen berada dalam satu rantai yang saling terhubung,” ujar Gobel.
Dalam kerangka itu, petani tidak lagi ditempatkan sebagai pemasok biasa, melainkan bagian dari sistem produksi yang mendapatkan pendampingan langsung, termasuk dalam memenuhi standar kualitas pangan Jepang.
Sejumlah petani dari Gorontalo turut dihadirkan dalam acara tersebut, bersama perwakilan pemerintah daerah. Kehadiran mereka, kata Gobel, menjadi simbol bahwa industri pangan tidak bisa dilepaskan dari peran sektor pertanian.
Ia juga menyinggung dampak ekonomi yang diharapkan, terutama bagi daerah seperti Gorontalo yang masih menghadapi tantangan kemiskinan.
“Ketika petani masuk dalam ekosistem industri, maka ada nilai tambah yang bisa dinikmati secara langsung,” katanya.
Selain untuk pasar domestik, Indonesia juga diproyeksikan menjadi basis produksi untuk ekspor ke kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah. Komoditas lokal seperti kakao, kopi, gula aren, ubi, dan kacang tanah disebut akan menjadi bagian dari rantai pasok.
Sementara itu, CEO Chateraise Jepang, Takako Saito, menyampaikan bahwa perusahaannya mengedepankan kualitas produk dengan harga yang tetap terjangkau.
Saat ini, Chateraise memiliki 14 pabrik di Jepang serta beberapa fasilitas produksi di luar negeri, termasuk di Belanda, Vietnam, dan Indonesia. Secara global, perusahaan ini memproduksi sekitar 400 jenis produk.
“Kakao dari Kolaka dan Gorontalo sudah menjadi bagian dari produksi kami. Dengan konsep farm to factory, asal bahan baku menjadi jelas,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama dengan Gobel Group juga membuka ruang transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja, dengan prinsip kemitraan yang saling menguntungkan.
Dari sisi diplomatik, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Yuji Kuruya, menilai pendekatan Chateraise sejalan dengan tren global yang mengedepankan bahan alami dan gaya hidup sehat.
Sementara itu, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Haikal Hasan, menekankan bahwa konsep halal kini juga memiliki dimensi ekonomi dan kesehatan.
“Halal tidak hanya fungsi agama, tetapi juga menjadi bagian dari standar global,” ujarnya.
Di tengah arus industrialisasi pangan, pendekatan yang didorong Gobel menunjukkan bahwa keterlibatan petani dalam rantai produksi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan jika ingin menjaga keberlanjutan sekaligus memperluas manfaat ekonomi. (rls/luk)



