GORONTALO, mimoza.tv — Di tengah pengusutan dugaan korupsi dana hibah KONI Provinsi Gorontalo, ada satu nama yang tiba-tiba ikut mencuat: lalampa.
Kudapan tradisional ini bukan hal baru di meja masyarakat Gorontalo. Namun menurut informasi yang didapat, dalam perkara yang kini ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo, lalampa disebut sebagai salah satu jenis konsumsi yang masuk dalam komponen anggaran kegiatan.
Dalam proses penyidikan, lalampa disebut berada di kisaran harga sekitar Rp10 ribu per biji. Ia menjadi bagian dari pos konsumsi ringan dalam program pemusatan latihan (TC) atlet yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah, bersama menu lain seperti bubur “sorba”, buah-buahan, dan aneka kue.
Lantas, seperti apa sebenarnya lalampa?
Kudapan Sederhana dengan Aroma yang Khas
Lalampa merupakan makanan tradisional yang banyak dijumpai di Gorontalo dan Sulawesi Utara. Sekilas bentuknya mirip lemper—sama-sama berbahan dasar ketan dan dibungkus daun pisang.
Namun perbedaannya cukup mencolok.
Jika lemper umumnya berisi daging ayam atau sapi dan hanya dikukus, lalampa diisi ikan—biasanya tongkol atau cakalang—yang telah dimasak dengan bumbu rempah. Setelah dibungkus, lalampa tidak hanya dikukus, tetapi juga dibakar di atas bara api.
Di situlah ciri khasnya terbentuk.
Aroma daun pisang yang terbakar berpadu dengan wangi ikan berbumbu, menghadirkan cita rasa gurih yang kuat. Tekstur ketan yang lembut dengan santan membuatnya terasa legit, dengan sentuhan rasa yang bisa sedikit pedas sesuai selera.
Tak heran, lalampa kerap hadir dalam berbagai acara, mulai dari hajatan keluarga hingga jamuan resmi. Kudapan ini juga mudah ditemukan di pasar tradisional, bahkan hingga hotel berbintang.
Dari Meja Hajatan ke Berkas Penyidikan
Dalam konteks perkara KONI, lalampa tidak lagi sekadar kudapan. Ia menjadi bagian dari rangkaian data yang tengah ditelusuri penyidik.
Di satu sisi, lalampa adalah makanan sederhana yang akrab dengan keseharian masyarakat. Di sisi lain, ia muncul dalam konteks anggaran yang kini sedang didalami.
Tanpa menarik kesimpulan lebih jauh, kehadiran lalampa dalam perkara ini menunjukkan satu hal: dalam sebuah penyelidikan, detail sekecil apa pun bisa menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar.
Dari bara api hingga masuk dalam berkas penyidikan, perjalanan lalampa kali ini memang terasa berbeda.
Penulis: Lukman



