GORONTALO, mimoza.tv – Langkah baru dalam layanan kesehatan anak dimulai di RSUD dr Aloei Saboe. Untuk pertama kalinya, rumah sakit milik pemerintah daerah itu melaksanakan tindakan kateterisasi jantung pada anak dengan kelainan jantung bawaan, Sabtu (18/4/2026).
Sebanyak 11 pasien anak dijadwalkan menjalani prosedur ini dalam dua hari pelaksanaan. Sebelumnya, jumlah pasien yang direncanakan mencapai 14 orang, namun beberapa di antaranya batal menjalani tindakan.

Dokter Spesialis Jantung Anak, Indah Musdalifah, menjelaskan bahwa kateterisasi merupakan tindakan minimal invasif tanpa operasi terbuka.
“Tindakan kateterisasi itu dilakukan tanpa operasi atau tanpa membuka dada. Ini bersifat minimal invasif, sehingga risikonya lebih rendah dan masa perawatannya lebih singkat. Anak-anak juga bisa lebih cepat pulih,” jelas dr Indah.
Menurutnya, sebagian besar kasus yang ditangani merupakan kelainan jantung bawaan berupa “jantung bocor”, seperti Ventricular Septal Defect, Atrial Septal Defect, dan Patent Ductus Arteriosus.
Kelainan tersebut dapat ditangani dengan memasukkan alat penutup melalui kateter yang dimasukkan dari pembuluh darah di paha.
“Penutupannya menggunakan alat yang dimasukkan melalui selang atau kateter dari pembuluh darah paha. Prosesnya relatif singkat, dan setelah evaluasi dengan USG jantung, pasien umumnya bisa pulang keesokan harinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, satu tindakan kateterisasi rata-rata berlangsung sekitar satu jam, dan bisa mencapai dua jam jika terdapat kendala teknis.
Lebih jauh, dr Indah menekankan pentingnya deteksi dini. Pasalnya, kelainan jantung bawaan tidak hanya berdampak pada fungsi organ, tetapi juga pertumbuhan anak.
“Anak-anak dengan penyakit jantung bawaan bisa mengalami gagal tumbuh, mudah sesak saat beraktivitas, dan dalam jangka panjang bisa terjadi peningkatan tekanan di paru. Itu yang harus dicegah sejak dini,” katanya.
Diagnosis biasanya diawali dari pemeriksaan klinis, seperti bunyi jantung yang tidak normal, kemudian dikonfirmasi melalui pemeriksaan USG jantung.
“Tindakan ini bertujuan utama untuk memperbaiki kualitas hidup anak. Setelah ditutup, keluhan berkurang, anak tidak lagi mudah sesak, nafsu makan membaik, dan berat badan bisa meningkat,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan merupakan gangguan struktur jantung atau pembuluh darah yang sudah ada sejak lahir. Faktor genetik, infeksi saat kehamilan, hingga paparan zat berbahaya seperti asap rokok dapat menjadi pemicu.

Sementara itu, Direktur RSAS, Abdulhafidz Daud, menyebut tindakan ini sebagai langkah awal penguatan layanan jantung anak di Gorontalo.
“Ini adalah tindakan perdana untuk jantung anak di RSAS. Kami melihat kebutuhan di Gorontalo cukup tinggi, karena banyak anak lahir dengan kelainan jantung,” ungkapnya.
Selama ini, pasien dengan kondisi serupa harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah. Kehadiran layanan ini diharapkan dapat memangkas jarak dan waktu penanganan.
“Kami berharap ke depan kasus-kasus seperti ini bisa ditangani langsung di RSAS, karena dari sisi sarana dan prasarana sudah tersedia. Hanya saja, untuk tahap awal masih ada pendampingan dari RSUD Dr. Soetomo,” jelas Abdulhafidz.
Ia juga mengakui bahwa keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan. Saat ini, Gorontalo baru memiliki satu dokter spesialis jantung anak, yang bertugas di dua rumah sakit.
“Ke depan tentu akan kami tambah SDM-nya, karena kebutuhan layanan ini cukup besar,” ujarnya.
Menariknya, sebagian besar pasien yang ditangani justru berasal dari luar Kota Gorontalo, seperti Boalemo dan Pohuwato. Sementara di kabupaten lain, penjaringan pasien belum dilakukan secara maksimal.
Pihak rumah sakit sengaja melibatkan media dalam peliputan ini sebagai bagian dari edukasi publik.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa layanan kateterisasi jantung sudah ada di Gorontalo, sehingga tidak perlu lagi harus ke luar daerah,” katanya.
Ke depan, RSAS juga tengah menyiapkan pengembangan fasilitas layanan medis lainnya, termasuk untuk bedah saraf dan jantung dewasa.
“Alatnya sudah ada dan sementara dalam tahap penyempurnaan ruangan. Insyaallah satu atau dua bulan ke depan sudah bisa beroperasi,” pungkasnya.
Langkah ini menjadi awal penting. Namun di baliknya, masih tersimpan pekerjaan rumah: memastikan layanan ini tidak berhenti sebagai momentum perdana, melainkan benar-benar menjadi akses yang berkelanjutan bagi anak-anak dengan kelainan jantung di Gorontalo.
Penulis: Lukman.



