GORONTALO, mimoza.tv – Menjelang Iduladha, perdebatan klasik kembali mencuat di tengah masyarakat Muslim: lebih utama berkurban kambing sendiri atau ikut sapi patungan?
Bagi sebagian orang, sapi dianggap lebih besar dan lebih bergengsi. Namun dalam perspektif syariat, ukuran fisik hewan bukanlah satu-satunya tolok ukur utama. Islam justru menempatkan nilai ketakwaan, keikhlasan, dan kemampuan sebagai fondasi utama ibadah kurban.
Kambing Individu Dinilai Lebih Afdal Sejumlah ulama menilai, kurban kambing atau domba yang dilakukan secara pribadi memiliki keutamaan lebih tinggi dibanding sapi patungan.
Alasannya sederhana namun mendasar: ibadah tersebut dilakukan penuh secara individu, tanpa berbagi porsi dengan peserta lain.
Pengasuh pondok pesantren Muhammad Isbah Kholili menyebutkan, dari sisi nilai ibadah, kurban kambing lebih mencerminkan pengorbanan personal yang utuh.
“Secara nilai ibadah, kambing lebih afdhal karena dilakukan individu, tidak berbagi dengan orang lain,” jelasnya dikutip mimoza.tv dari kanal YouTube Tribunnews.
Pandangan ini diperkuat oleh praktik Rasulullah SAW yang dalam sejumlah hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebut lebih sering berkurban dengan dua ekor kambing.
Nabi Muhammad SAW bahkan menyembelih hewan kurbannya sendiri sambil mengumandangkan basmalah dan takbir, menegaskan bahwa kurban bukan sekadar ritual, tetapi manifestasi langsung ketakwaan.
Sapi Patungan Tetap Sah, Solusi Bagi Umat Meski kambing individu dinilai lebih utama, bukan berarti sapi patungan kehilangan nilai ibadah.
Dalam syariat, satu ekor sapi sah untuk tujuh orang, sehingga menjadi solusi realistis bagi umat Muslim yang belum mampu menanggung kurban sendiri.
Model ini justru membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk tetap menjalankan sunnah muakkadah tanpa terbebani kemampuan ekonomi.
Selain itu, distribusi daging sapi biasanya lebih banyak, memberi manfaat sosial yang lebih besar kepada masyarakat penerima.
Islam Tidak Membebani di Luar Kemampuan Prinsip Islam sangat jelas: ibadah dijalankan sesuai kemampuan.
Allah SWT berfirman dalam QS At-Taghabun ayat 16:
“Bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”
Ayat ini menjadi penegasan bahwa seseorang tidak perlu memaksakan diri demi gengsi sosial atau tekanan lingkungan.
Jika mampu berkurban kambing sendiri, itu sangat baik dan bahkan lebih utama. Namun jika kondisi finansial belum memungkinkan, sapi patungan tetap sah dan bernilai ibadah.
Kurban Bukan Soal Prestige, Tapi Ketakwaan Fenomena sosial di masyarakat terkadang menempatkan kurban sebagai simbol status ekonomi. Padahal Al-Qur’an secara tegas membantah persepsi tersebut.
Dalam QS Al-Hajj ayat 37 disebutkan:
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
Pesan ini menohok cara pandang materialistik dalam beribadah: yang dilihat Allah bukan besar kecilnya hewan, melainkan kualitas iman dan keikhlasan pelakunya.
Kesimpulan: Pilih yang Mampu, Jalankan dengan Ikhlas Secara syariat:
Kambing individu lebih afdhal
Lebih dekat dengan sunnah Rasulullah SAW
Mewakili pengorbanan personal penuh
Sementara:
Sapi patungan tetap sah
Menjadi solusi ekonomis
Memperluas manfaat sosial
Pada akhirnya, kurban bukan perlombaan prestise, melainkan ujian keikhlasan.
Mimoza.tv menilai, masyarakat perlu lebih bijak memahami esensi ibadah ini agar tidak terjebak pada simbolisme semata. Sebab dalam Islam, kualitas penghambaan jauh lebih penting daripada sekadar ukuran hewan kurban.
Penullis: Lukman.



