BONE BOLANGO, mimoza.tv – Persoalan bau tak sedap dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai mendapat sorotan. Selain mengganggu kenyamanan lingkungan, kondisi ini juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan masyarakat di sekitar lokasi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keluhan umumnya muncul dari bau menyengat yang bersumber dari limbah dapur, terutama pada titik penampungan awal dan saluran terbuka. Dalam beberapa kasus, bau muncul akibat proses pembusukan limbah organik yang belum tertangani optimal, baik karena keterbatasan sistem IPAL maupun beban limbah yang cukup tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Kabupaten Kota Sehat (FKKS) Bone Bolango, Rakhmatiyah Deu, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Bone Bolango mendorong adanya pendekatan berbasis kesehatan lingkungan dalam penanganan persoalan tersebut.
“Dari sisi kesehatan lingkungan, persoalan bau di dapur SPPG ini perlu mendapat perhatian serius. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga menyangkut kualitas lingkungan di sekitar,” ujarnya.
Ia menilai, selain perbaikan sistem IPAL sebagai langkah utama, perlu dibuka ruang untuk menguji pendekatan alternatif yang lebih sederhana dan berbasis partisipasi masyarakat. Salah satu yang mulai dilirik adalah pemanfaatan eco enzyme.
Menurutnya, eco enzyme yang merupakan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga memiliki potensi untuk membantu menekan bau, terutama pada titik-titik awal limbah dan area yang cenderung stagnan.
“Kami melihat ada potensi dari putra daerah yang telah mengembangkan eco enzyme dan menggunakannya untuk mengurangi bau di lingkungan sehari-hari. Ini bisa menjadi alternatif yang layak diuji terlebih dahulu di lapangan,” kata Rakhmatiyah.
Tak hanya itu, ia juga mendorong masyarakat untuk mulai mengenal dan mempelajari pembuatan eco enzyme secara mandiri. Sebab, proses pembuatannya dinilai sederhana dan memanfaatkan bahan yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah.
“Pembuatan eco enzyme ini relatif mudah, hanya memanfaatkan sisa buah dan sayuran yang difermentasi. Ini bisa menjadi edukasi bagi masyarakat bahwa sampah organik bukan semata masalah, tapi juga memiliki nilai manfaat jika dikelola dengan benar,” ujar politisi Nasdem ini.
Ia berharap, pendekatan ini tidak hanya menjadi solusi teknis jangka pendek dalam mengurangi bau, tetapi juga mampu mengubah pola pikir masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga, khususnya limbah organik.
Lebih lanjut, Rakhmatiyah juga menekankan pentingnya keterlibatan kalangan akademisi dalam menjawab persoalan ini. Menurutnya, pendekatan ilmiah tetap dibutuhkan agar setiap solusi yang ditawarkan dapat diuji, diukur, dan dipertanggungjawabkan.
“Kami juga membuka ruang bagi para akademisi, baik dari perguruan tinggi maupun praktisi lingkungan, untuk ikut berkontribusi. Baik dalam bentuk kajian, ide, maupun pengembangan metode, sehingga penanganan masalah ini bisa lebih komprehensif,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi menjadi kunci dalam menciptakan solusi yang tidak hanya praktis, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat.Meski demikian, Rakhmatiyah menegaskan bahwa penggunaan eco enzyme tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem IPAL yang sudah ada. Pendekatan ini lebih diarahkan sebagai intervensi tambahan untuk membantu mengurangi bau, khususnya pada kondisi tertentu.
“Ini bukan pengganti IPAL. Sistem pengolahan limbah tetap menjadi yang utama. Tapi untuk mengatasi bau, terutama di titik-titik tertentu, pendekatan seperti ini bisa dicoba secara terbatas,” tegasnya.
Sebagai Ketua FKKS, ia juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menciptakan lingkungan sehat, dengan melibatkan pemerintah daerah, pengelola SPPG, serta masyarakat.
Ke depan, DPRD mendorong agar dilakukan uji coba terbatas atau pilot project untuk melihat sejauh mana efektivitas eco enzyme dalam menekan bau di dapur SPPG. Hasil uji lapangan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan yang lebih luas.
Di tengah keterbatasan infrastruktur di sejumlah titik, munculnya solusi sederhana berbasis pengalaman lapangan dinilai sebagai peluang. Namun demikian, pengujian yang terukur tetap menjadi kunci agar solusi yang diambil tidak hanya efektif, tetapi juga aman dan berkelanjutan.
Penulis: Lukman



