PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO pada triwulan I tahun 2026 patut dicatat sebagai capaian yang positif. Data BPS Provinsi Gorontalo menunjukkan ekonomi daerah tumbuh 7,68 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Angka ini bahkan berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh paling tinggi hingga 31,34 persen. Industri pengolahan tumbuh 29,34 persen. Ekspor barang dan jasa ikut melonjak lebih dari 21 persen. Di atas kertas, ini adalah sinyal bahwa mesin ekonomi Gorontalo mulai bergerak lebih cepat.
Namun pertanyaan pentingnya bukan sekadar seberapa tinggi ekonomi tumbuh. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: pertumbuhan ini sesungguhnya paling terasa untuk siapa?
Sebab jika membaca struktur ekonomi Gorontalo secara lebih utuh, terlihat bahwa denyut utama ekonomi rakyat masih bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sektor ini masih menyumbang 36,46 persen terhadap PDRB daerah dan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.
Artinya, kehidupan sebagian besar masyarakat Gorontalo sampai hari ini masih bergantung pada hasil kebun, sawah, laut, dan aktivitas ekonomi tradisional lainnya.
Di sisi lain, sektor-sektor yang tumbuh paling tinggi justru berasal dari aktivitas yang cenderung padat modal, seperti pertambangan dan industri pengolahan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Gorontalo. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah kaya sumber daya alam di Indonesia juga mengalami pola serupa.
Daerah tumbuh cepat karena investasi besar, hilirisasi industri, dan ekspor komoditas. Tetapi pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan lurus dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Kawasan industri bisa berkembang modern, sementara desa-desa di sekitarnya belum tentu mengalami perubahan kualitas hidup yang setara. Nilai ekonomi naik, tetapi sebagian besar keuntungan berputar pada perusahaan besar, investor, dan rantai perdagangan global.
Inilah yang dalam kajian ekonomi disebut sebagai enclave economy, ketika pertumbuhan ekonomi tumbuh kuat dalam satu kantong industri, tetapi keterhubungannya dengan ekonomi masyarakat lokal masih lemah.
Karena itu, Gorontalo perlu membaca pertumbuhan ekonomi saat ini dengan lebih hati-hati. Pertumbuhan tinggi memang penting. Tetapi pertumbuhan tanpa pemerataan hanya akan menghasilkan statistik yang indah tanpa fondasi sosial yang kuat.
Data ketenagakerjaan Gorontalo sendiri menunjukkan pekerjaan formal masih berada di bawah 40 persen. Sementara sebagian besar tenaga kerja masih berada di sektor informal dan pertanian tradisional.
Ini menandakan transformasi ekonomi daerah belum sepenuhnya selesai.
Pertumbuhan ekonomi yang sehat seharusnya tidak hanya terlihat pada angka PDRB, ekspor, atau investasi. Pertumbuhan yang sehat juga harus tercermin pada:
meningkatnya kualitas pekerjaan,
bertambahnya industri lokal,
naiknya pendapatan petani dan nelayan,
tumbuhnya UMKM produktif,
serta meningkatnya kualitas sumber daya manusia.
Sumber daya alam memang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tetapi sejarah banyak daerah menunjukkan, ketergantungan berlebihan pada ekonomi ekstraktif juga membuat daerah rentan terhadap gejolak harga komoditas global.
Ketika harga komoditas turun, pertumbuhan ikut melemah. Ketika investasi melambat, ekonomi daerah mudah terguncang.
Karena itu, pekerjaan rumah terbesar Gorontalo bukan sekadar mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi membangun ekonomi yang memiliki daya tahan jangka panjang.
Hilirisasi berbasis potensi lokal, penguatan industri pengolahan, investasi yang menyerap tenaga kerja lokal, serta peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan masyarakat harus menjadi prioritas utama.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi dicatat di laporan statistik, tetapi seberapa besar pertumbuhan itu benar-benar terasa di kehidupan masyarakat sehari-hari.
Redaksi.



