GORONTALO, mimoza.tv – Provinsi Gorontalo mencatat deflasi terbesar di Indonesia pada Mei 2026. Harga berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat turun 0,96 persen dibandingkan April 2026. Bagi konsumen, kabar ini tentu melegakan karena biaya belanja rumah tangga menjadi lebih ringan.
Namun di balik kabar baik tersebut, tersimpan cerita lain dari sektor pertanian. Saat harga-harga di pasar turun, sebagian petani justru harus menghadapi kenyataan pahit: nilai jual hasil panen mereka ikut merosot.
Fakta itu terungkap dalam rilis perkembangan inflasi dan Nilai Tukar Petani (NTP) yang disampaikan Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, M.Stat., di Ruang Vicon Kantor BPS Provinsi Gorontalo, Selasa (2/6/2026).
“Deflasi 0,96 persen ini merupakan deflasi terbesar secara nasional untuk bulan ke bulan. Terjadi karena barang-barang yang mengalami penurunan harga lebih banyak dibandingkan barang yang mengalami kenaikan harga,” ujar Agus.
Meski demikian, Agus menegaskan bahwa kondisi inflasi secara umum masih berada dalam koridor yang aman.
“Inflasi tahun kalender masih berada pada angka 1,13 persen. Jika mengacu pada target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen, maka inflasi di Provinsi Gorontalo masih dalam rentang yang terkendali,” katanya.
Namun, ketika konsumen menikmati harga cabai rawit, bawang merah dan sejumlah komoditas yang turun, kondisi berbeda justru dialami petani hortikultura.
Data BPS menunjukkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada Mei 2026 turun 3,07 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan terdalam terjadi pada subsektor hortikultura yang anjlok hingga 34,19 persen.
Cabai rawit, bawang merah dan cabai merah menjadi komoditas utama yang menyeret turunnya pendapatan petani.
Akibatnya, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) merosot tajam sebesar 33,85 persen hanya dalam satu bulan.
“Deflasi yang dinikmati konsumen sebagian besar berasal dari penurunan harga komoditas pangan, khususnya cabai rawit dan beberapa komoditas hortikultura lainnya. Di sisi lain, kondisi ini ikut memengaruhi harga yang diterima petani,” jelas Agus.
Dengan kata lain, deflasi kali ini tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Sebab, penurunan harga yang terjadi justru berasal dari anjloknya harga komoditas yang menjadi sumber pendapatan petani.
Meski sektor hortikultura mengalami tekanan, tidak semua subsektor pertanian bernasib sama.
Petani tanaman pangan justru menikmati kenaikan Nilai Tukar Petani sebesar 5 persen. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya harga jagung yang menjadi komoditas utama di Gorontalo.
“Subsektor tanaman pangan menunjukkan perkembangan yang positif. Kenaikan harga jagung memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan pendapatan petani tanaman pangan,” kata Agus.
Kabar baik juga datang dari sektor peternakan dan perikanan tangkap. Nilai Tukar Peternakan naik 1,65 persen, terutama karena meningkatnya harga sapi potong. Sementara Nilai Tukar Nelayan naik 2,80 persen berkat kenaikan harga ikan teri, ikan kembung, ikan cakalang dan ikan tuna.
Sebaliknya, sektor perkebunan rakyat dan budidaya ikan masih menghadapi tekanan. Harga kelapa menyebabkan NTP perkebunan rakyat turun 2,19 persen. Sementara pembudidaya ikan mengalami penurunan NTP hingga 5,08 persen akibat turunnya harga ikan nila, bandeng dan udang.
Fenomena Mei 2026 menunjukkan bahwa deflasi tidak selalu identik dengan membaiknya kondisi ekonomi produsen. Ketika konsumen menikmati harga yang lebih murah, sebagian petani justru menerima pendapatan yang lebih rendah karena hasil panen mereka dijual dengan harga yang turun tajam.
Karena itu, menurut data BPS, tantangan Gorontalo saat ini bukan sekadar menjaga inflasi tetap rendah, tetapi juga memastikan harga komoditas pertanian tetap memberikan keuntungan yang layak bagi petani sebagai pelaku utama sektor pangan daerah.
Penulis: Lukman



