GORONTALO, mimoza.tv – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat deflasi sebesar 0,43 persen pada Juli 2026. Penurunan harga tersebut tidak terjadi secara merata pada seluruh barang dan jasa. Sejumlah komoditas justru masih mengalami kenaikan harga dan menjadi penyumbang inflasi.
Data BPS menunjukkan, pergerakan harga pada Juli cukup dipengaruhi oleh komoditas pangan. Di satu sisi, cabai rawit, tomat dan bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar. Di sisi lain, beras justru menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa deflasi Gorontalo bukan berarti seluruh kebutuhan masyarakat mengalami penurunan harga.
Daftar Komoditas Penyumbang Inflasi
Berikut sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi Gorontalo pada Juli 2026:
- Beras: 0,20 persen
- Pelumas/oli mesin: 0,14 persen
- Cumi-cumi: 0,09 persen
- Ikan layang/ikan benggol: 0,08 persen
- Ikan cakalang/ikan sisik: 0,06 persen
- Kangkung: 0,06 persen
- Daging ayam ras: 0,06 persen
- Ikan malalugis/ikan sorihi: 0,05 persen
- Pemeliharaan/service: 0,05 persen
- Ikan tuna: 0,04 persen
Dari daftar tersebut, beras menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar.
Artinya, ketika sejumlah bahan pangan hortikultura mengalami penurunan harga, beras justru masih memberikan tekanan terhadap indeks harga konsumen di Gorontalo.
Daftar Komoditas Penyumbang Deflasi
Sementara itu, sejumlah komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi Juli 2026 adalah:
- Cabai rawit: -0,58 persen
- Tomat: -0,53 persen
- Bawang merah: -0,48 persen
- Emas perhiasan: -0,04 persen
- Ikan selar/ikan tude: -0,03 persen
- Semangka: -0,03 persen
- Cabai merah: -0,02 persen
- Ikan gabus: -0,02 persen
- Jeruk nipis/limau: -0,01 persen
- Kemiri: -0,01 persen
Dari daftar tersebut terlihat jelas bahwa tiga komoditas hortikultura, yakni cabai rawit, tomat dan bawang merah, memberikan tekanan terbesar terhadap penurunan harga.
Ketiganya bahkan memberikan andil deflasi jauh lebih besar dibanding komoditas lain dalam daftar.
Cabai, Tomat dan Bawang Menjadi Penentu
Jika tiga komoditas tersebut digabungkan, andil deflasinya mencapai sekitar 1,59 poin persentase.
Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh komoditas hortikultura terhadap pergerakan harga di Gorontalo.
Fenomena tersebut juga menunjukkan karakter inflasi daerah yang sangat sensitif terhadap perubahan pasokan pangan.
Ketika pasokan cabai, tomat dan bawang merah meningkat, harga dapat turun cukup tajam dan langsung memengaruhi inflasi daerah.
Sebaliknya, ketika pasokan terganggu sementara permintaan meningkat, ketiga komoditas yang sama dapat berubah menjadi sumber tekanan inflasi.
Karena itu, pengendalian inflasi Gorontalo tidak cukup hanya dilakukan ketika harga sudah naik.
Pemerintah perlu melihat persoalan dari sisi produksi, distribusi hingga penyerapan hasil pertanian. Ketersediaan pasokan harus dijaga agar harga tidak melonjak saat pasokan berkurang, tetapi juga tidak jatuh terlalu dalam ketika produksi melimpah.
Deflasi Tidak Berarti Semua Harga Turun
BPS mencatat Gorontalo mengalami deflasi 0,43 persen secara bulanan pada Juli 2026.
Namun, secara tahunan Gorontalo masih mengalami inflasi 2,95 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,83 persen.
Artinya, harga-harga memang turun dibanding Juni 2026, tetapi tingkat harga secara umum masih lebih tinggi dibanding Juli 2025.
Selain kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami deflasi 2,13 persen, kelompok transportasi juga mengalami deflasi sebesar 2,25 persen dengan andil deflasi 0,24 persen.
Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran masih mengalami kenaikan, antara lain perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,75 persen, pendidikan 0,62 persen, serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,57 persen.
Dengan demikian, angka deflasi 0,43 persen merupakan hasil dari pergerakan berbagai harga yang berbeda, bukan karena seluruh barang dan jasa mengalami penurunan.
Harga Konsumen Turun, Bagaimana dengan Petani?
Ada satu catatan penting di balik turunnya harga komoditas hortikultura.
Pada bulan yang sama, Nilai Tukar Petani (NTP) Gorontalo turun 5,99 persen menjadi 123,19.
Penurunan NTP terjadi ketika indeks harga yang diterima petani turun 7,74 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani turun 1,86 persen.
Yang paling mencolok terjadi pada subsektor hortikultura. NTP subsektor ini tercatat turun 43,92 persen.
Data tersebut tidak serta-merta berarti seluruh petani mengalami kerugian. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa posisi relatif petani, terutama di subsektor hortikultura, mengalami tekanan cukup besar pada Juli.
Di satu sisi, konsumen menikmati harga cabai, tomat dan bawang merah yang lebih rendah.
Di sisi lain, petani harus menghadapi penurunan harga yang diterima dari hasil produksinya.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah dalam pengendalian inflasi: bagaimana menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen tanpa membuat harga di tingkat petani jatuh terlalu dalam.
Sebab, inflasi yang terkendali seharusnya tidak hanya menghasilkan pangan yang murah di pasar, tetapi juga memastikan petani tetap memiliki insentif ekonomi untuk memproduksi pangan secara berkelanjutan.
Penulis: Lukman



