GORONTALO, mimoza.tv – Di balik pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo yang mencapai 7,68 persen pada Triwulan I 2026, terselip satu catatan yang menarik untuk dicermati. Ketika konsumsi masyarakat menguat, industri pengolahan melesat, dan ekspor meningkat, justru kredit investasi mengalami pembalikan arah.
Data Laporan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Gorontalo mencatat, kredit investasi terkontraksi 12,04 persen secara tahunan (year on year/yoy). Padahal pada triwulan sebelumnya, jenis kredit yang menjadi indikator ekspansi usaha tersebut masih tumbuh 26,44 persen.
Sebaliknya, pertumbuhan kredit secara keseluruhan masih berada pada level yang cukup baik.
“Pertumbuhan kredit di Provinsi Gorontalo pada Triwulan I 2026 tercatat sebesar 10,77 persen (yoy), mengalami moderasi dibandingkan Triwulan IV 2025 sebesar 24,28 persen (yoy), namun masih berada dalam rentang sasaran pertumbuhan kredit nasional sebesar 8–11 persen,” tulis KPwBI Gorontalo dalam laporannya.
Fenomena ini menjadi menarik karena terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi Gorontalo yang justru lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional maupun kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).
Secara teori, pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya diikuti meningkatnya investasi baru. Namun data perbankan menunjukkan pelaku usaha di Gorontalo belum banyak menambah pembiayaan untuk ekspansi melalui kredit investasi.
Sebaliknya, dunia usaha lebih banyak memanfaatkan kredit modal kerja.
“Pertumbuhan kredit terutama didorong oleh kredit modal kerja yang tumbuh sebesar 39,70 persen (yoy), meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 52,77 persen (yoy),” demikian laporan Bank Indonesia.
Kondisi tersebut mengindikasikan aktivitas usaha sehari-hari masih berjalan cukup baik. Namun, ekspansi jangka panjang melalui investasi baru tampaknya belum sekuat periode sebelumnya.
Di sisi konsumsi, masyarakat juga masih menunjukkan aktivitas belanja yang relatif baik.
Kredit konsumsi tumbuh 6,76 persen. Salah satu yang mengalami peningkatan cukup signifikan adalah kredit peralatan rumah tangga yang naik menjadi 11,74 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,78 persen.
Peningkatan ini sejalan dengan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang menunjukkan meningkatnya pembelian furnitur, peralatan rumah tangga, dan alat elektronik.
Sebaliknya, kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh lebih lambat, dari 24,51 persen menjadi 16,45 persen. Kredit kendaraan bermotor bahkan masih mengalami kontraksi sebesar 13,59 persen.
Di sisi lain, penyaluran kredit menunjukkan perbedaan mencolok antar sektor ekonomi.
Sektor pertambangan mencatat pertumbuhan kredit paling tinggi, mencapai 552,61 persen secara tahunan. Industri pengolahan juga tumbuh 43,18 persen.
Namun, dua sektor yang selama ini menjadi penyangga utama ekonomi Gorontalo justru masih mengalami kontraksi.
“Di sisi lain, kredit sektor perdagangan dan pertanian masih mengalami kontraksi masing-masing sebesar 2,35 persen (yoy) dan 5,69 persen (yoy),” tulis KPwBI.
Meski demikian, kualitas kredit perbankan masih tergolong sehat.
Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 4,31 persen. Angka ini memang meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,68 persen, tetapi masih berada di bawah ambang batas 5 persen yang lazim digunakan sebagai indikator kesehatan perbankan.
Sementara itu, dana masyarakat yang tersimpan di perbankan terus bertambah.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,32 persen, ditopang oleh peningkatan tabungan sebesar 10,74 persen dan giro yang tumbuh 23,66 persen. Sebaliknya, simpanan dalam bentuk deposito masih mengalami kontraksi 4,62 persen.
Secara keseluruhan, data Bank Indonesia menggambarkan bahwa ekonomi Gorontalo masih berada pada jalur pertumbuhan yang positif. Namun, perlambatan kredit investasi menjadi sinyal yang layak dicermati. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi memang mencerminkan aktivitas ekonomi yang bergerak, tetapi keberlanjutannya juga bergantung pada munculnya investasi baru yang mampu memperluas kapasitas produksi, membuka lapangan kerja, dan menjaga laju pertumbuhan dalam jangka panjang.
Karena itu, pembalikan arah kredit investasi pada awal 2026 menjadi salah satu indikator yang patut dipantau pada triwulan-triwulan berikutnya, untuk melihat apakah kondisi tersebut hanya bersifat sementara atau menjadi sinyal kehati-hatian dunia usaha dalam melakukan ekspansi.
Penulis: Lukman



