GORONTALO, mimoza.tv – Perahu-perahu nelayan di Desa Pentadio Barat, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, kini seperti terjebak di halaman rumah sendiri. Jalur yang selama ini menjadi akses utama menuju wilayah tangkapan ikan di Danau Limboto tertutup rapat oleh hamparan eceng gondok yang tumbuh tak terkendali.
Sudah lebih dari satu bulan kondisi itu berlangsung. Bagi sebagian orang, eceng gondok mungkin hanya terlihat sebagai tanaman hijau yang mengapung di permukaan air. Namun bagi nelayan Danau Limboto, tumbuhan tersebut telah berubah menjadi penghalang yang membatasi ruang gerak sekaligus menggerus sumber penghasilan mereka.
Di beberapa titik, hamparan eceng gondok bahkan membentuk lapisan padat yang sulit ditembus perahu.
“Kalau cuma dibuka sekali, tidak akan bertahan lama. Eceng gondok itu cepat sekali tumbuh lagi. Harus ada perhatian khusus dan penanganan yang berkelanjutan,” kata Haris Hamzah, nelayan setempat, saat ditemui di tepi Danau Limboto.
Menurut Haris, persoalan eceng gondok bukan hal baru bagi masyarakat pesisir danau. Hampir setiap tahun tanaman tersebut kembali muncul dan menutupi sebagian perairan. Namun kali ini, pertumbuhannya dinilai jauh lebih masif hingga menutup akses keluar-masuk perahu nelayan.
Akibatnya, aktivitas mencari ikan menjadi jauh lebih sulit. Sebagian nelayan terpaksa memindahkan perahu ke lokasi yang masih terbuka. Ada pula yang memilih mencari pekerjaan lain sementara waktu karena hasil melaut tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan keluarga.
“Kalau yang lain ada yang kerja bangunan dulu. Sebagian masih turun ke danau, tapi perahunya harus ditaruh jauh di ujung yang masih bisa dilewati,” ujar Haris.
Keluhan serupa disampaikan Lukman Kahilina. Ia mengaku pendapatan nelayan mengalami penurunan cukup signifikan sejak jalur danau tertutup gulma air tersebut.
“Kalau turun malam, pulangnya pagi. Hasil sekarang paling tinggi sekitar Rp100 ribu. Kadang hanya Rp50 ribu. Dulu bisa sampai Rp200 ribu lebih sehari,” katanya.
Menurut Lukman, kondisi ini tidak hanya menyulitkan saat mencari ikan, tetapi juga menambah beban biaya dan tenaga.
“Kasihan yang tidak punya motor. Mereka harus jalan jauh karena perahu diparkir di lokasi yang masih bersih dari eceng gondok,” ujarnya.
Bukan Sekadar Gulma Biasa
Apa yang terjadi di Danau Limboto sesungguhnya merupakan fenomena yang banyak ditemukan di danau-danau tropis di berbagai belahan dunia.
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan tanaman air yang berasal dari kawasan Sungai Amazon di Amerika Selatan. Tanaman ini diperkenalkan ke berbagai negara sebagai tanaman hias karena memiliki bunga berwarna ungu yang menarik.
Namun dalam perkembangannya, eceng gondok justru dikenal sebagai salah satu spesies invasif paling bermasalah di dunia.
Berdasarkan berbagai penelitian yang diterbitkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), International Union for Conservation of Nature (IUCN), serta sejumlah jurnal ekologi perairan, eceng gondok memiliki kemampuan berkembang biak yang luar biasa cepat.
Tanaman ini tidak hanya berkembang melalui biji, tetapi juga melalui tunas vegetatif. Dalam kondisi ideal, satu rumpun eceng gondok dapat berkembang menjadi puluhan hingga ratusan individu baru hanya dalam beberapa minggu.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan biomassa eceng gondok dapat berlipat ganda dalam waktu sekitar dua minggu apabila tersedia cukup nutrisi dan sinar matahari.
Karena itulah, pembersihan secara manual sering kali hanya memberikan efek sementara.
Begitu sebagian tanaman tersisa di perairan, koloni baru akan kembali terbentuk dalam waktu relatif singkat.
Danau Limboto Menjadi Habitat Ideal
Para ahli lingkungan menyebut pertumbuhan eceng gondok yang cepat biasanya berkaitan erat dengan tingginya kandungan unsur hara di dalam perairan.
Nitrogen dan fosfor merupakan dua unsur utama yang menjadi “makanan” bagi tanaman air tersebut.
Sumbernya dapat berasal dari limpasan pupuk pertanian, limbah rumah tangga, kotoran ternak, hingga sedimentasi yang terbawa aliran sungai menuju danau.
Kondisi tersebut dikenal dalam ilmu lingkungan sebagai eutrofikasi, yakni meningkatnya kandungan nutrisi di badan air yang memicu ledakan pertumbuhan tumbuhan air dan alga.
Danau Limboto sendiri selama bertahun-tahun menghadapi persoalan sedimentasi dan pendangkalan yang cukup serius.
Data berbagai penelitian menunjukkan luas dan kedalaman Danau Limboto terus mengalami penyusutan akibat sedimentasi dari daerah aliran sungai yang bermuara ke danau tersebut.
Perairan yang semakin dangkal justru menjadi habitat yang ideal bagi pertumbuhan eceng gondok.
Semakin dangkal suatu danau, semakin mudah sinar matahari menembus dasar perairan dan semakin cepat tanaman air berkembang.
Mengancam Ekosistem Perairan
Persoalan eceng gondok tidak berhenti pada terganggunya transportasi air.
Ketika menutupi permukaan danau dalam skala luas, tanaman ini dapat menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam air.
Akibatnya, proses fotosintesis tumbuhan air di bawah permukaan menjadi terganggu.
Pada malam hari, hamparan eceng gondok yang padat juga mengonsumsi oksigen dalam jumlah besar melalui proses respirasi.
Kondisi ini dapat menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun drastis dan berdampak pada kehidupan ikan.
Dalam berbagai kasus di sejumlah negara tropis, ledakan populasi eceng gondok bahkan pernah dikaitkan dengan kematian ikan massal akibat rendahnya kadar oksigen di perairan.
Selain itu, tumpukan eceng gondok yang mati akan membusuk dan mempercepat proses pendangkalan danau.
Semakin banyak tanaman yang mati dan mengendap di dasar perairan, semakin cepat pula kapasitas tampung danau berkurang.
Perlu Solusi Jangka Panjang
Haris Hamzah mengatakan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo sebelumnya pernah membantu kelompok nelayan dengan menyediakan alat untuk menangani eceng gondok.
Namun alat tersebut saat ini tidak dapat digunakan karena mengalami kerusakan.
“Alhamdulillah dulu pernah dibantu alat dari Balai Sungai. Tapi sekarang masih rusak dan kami masih menunggu perbaikannya,” katanya.
Menurut para ahli lingkungan, pengendalian eceng gondok memang tidak bisa hanya mengandalkan pembersihan sesaat.
Penanganan yang efektif harus dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari pengurangan limbah yang masuk ke danau, pengendalian sedimentasi, pembersihan rutin, hingga pemanfaatan eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomi seperti kompos, kerajinan tangan, bahan baku biogas, maupun pakan ternak setelah melalui pengolahan tertentu.
Tanpa langkah yang berkelanjutan, eceng gondok akan terus kembali meski berkali-kali dibersihkan.
Bagi nelayan Pentadio Barat, persoalannya sesederhana ini: selama jalur perahu masih tertutup, semakin sulit pula mereka mencari nafkah di danau yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan.
Dan bagi Danau Limboto, ledakan eceng gondok mungkin bukan sekadar masalah gulma air. Ia bisa menjadi tanda bahwa ekosistem danau sedang mengirimkan sinyal bahwa ada persoalan yang lebih besar yang perlu segera ditangani.
Penulis: Lukman



