GORONTALO, mimoza.tv – Perekonomian Provinsi Gorontalo menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Berdasarkan Laporan Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang dirilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Gorontalo, pertumbuhan ekonomi daerah pada Triwulan I 2026 mencapai 7,68 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Angka tersebut meningkat dibandingkan Triwulan IV 2025 yang tumbuh 6,12 persen. Capaian itu juga berada di atas pertumbuhan ekonomi kawasan Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua) sebesar 6,25 persen maupun pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen.
Dalam laporannya, KPwBI Gorontalo menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah didorong oleh sejumlah sektor usaha yang mengalami akselerasi cukup signifikan.
“Pertumbuhan ekonomi dari sisi lapangan usaha pada Triwulan I 2026 didorong oleh meningkatnya pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 29,34 persen, transportasi dan pergudangan sebesar 14,25 persen, serta perdagangan sebesar 9,61 persen,” tulis KPwBI Gorontalo.
Sektor industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Gorontalo. Peningkatan aktivitas industri makanan dan minuman disebut menjadi faktor dominan yang menopang kinerja sektor tersebut.
Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan terdorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri.
Aktivitas perdagangan juga mengalami peningkatan seiring bertambahnya transaksi di sektor ritel maupun perdagangan modern.
Di tengah pertumbuhan sektor-sektor tersebut, lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Gorontalo juga menunjukkan perbaikan.
“Lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 4,12 persen atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya,” demikian laporan Bank Indonesia.
Peningkatan itu ditopang oleh produksi jagung yang masih menjadi komoditas unggulan Gorontalo. Data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen mencapai 208,91 ribu ton atau tumbuh 3,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, produksi padi tercatat sekitar 89 ribu ton dan mengalami kontraksi sebesar 12,58 persen.
Daya Beli Masyarakat Menguat
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
KPwBI Gorontalo mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 6,81 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
“Pertumbuhan perekonomian Provinsi Gorontalo yang lebih tinggi utamanya didorong oleh menguatnya kinerja konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama sisi pengeluaran sebesar 6,81 persen,” tulis KPwBI.
Meningkatnya konsumsi masyarakat turut dipengaruhi oleh membaiknya pendapatan petani. Hal itu tercermin dari rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) yang naik dari 117,13 pada Triwulan IV 2025 menjadi 120,24 pada Triwulan I 2026.
Selain konsumsi rumah tangga, aktivitas ekspor juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan.
“Komponen total ekspor mengalami pertumbuhan sebesar 21,77 persen atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya,” lanjut laporan tersebut.
Inflasi Tetap Terkendali
Di sisi lain, inflasi Gorontalo masih berada dalam rentang sasaran nasional meski terjadi peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Pada Triwulan I 2026, inflasi tahunan Gorontalo tercatat sebesar 2,60 persen, naik tipis dari 2,52 persen pada triwulan sebelumnya.
“Dengan capaian tersebut, inflasi Gorontalo masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5 persen plus minus 1 persen, mencerminkan stabilitas harga yang tetap terjaga,” tulis KPwBI Gorontalo.
Tekanan inflasi terutama berasal dari komoditas strategis seperti cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, ikan mujair, serta tarif air minum PAM.
Menurut Bank Indonesia, kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah dipengaruhi meningkatnya permintaan selama Ramadan dan Idulfitri, baik dari dalam maupun luar daerah.
Sementara itu, harga beras relatif stabil.
“Harga beras menunjukkan perkembangan yang stabil sejalan dengan masifnya penyaluran beras SPHP melalui berbagai kanal distribusi serta meningkatnya ketersediaan beras pada periode panen raya,” demikian laporan tersebut.
KPwBI juga mencatat tekanan inflasi berasal dari kelompok inti, khususnya emas perhiasan. Kenaikan harga emas mengikuti lonjakan harga emas dunia yang meningkat lebih dari 62 persen secara tahunan akibat ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.
Secara keseluruhan, laporan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Gorontalo memasuki tahun 2026 dengan fondasi yang cukup kuat. Pertumbuhan yang tinggi, konsumsi masyarakat yang meningkat, serta inflasi yang tetap terkendali menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Penulis: Lukman



