GORONTALO, mimoza.tv – Pagi itu, suasana di Kelurahan Lekobalo terasa berbeda dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika suara musik mulai terdengar dari beberapa rumah warga. Meja-meja sederhana disusun di halaman, makanan tertata rapi, dan orang-orang saling menyapa dengan wajah yang tampak lebih ringan dari hari-hari sebelumnya.
Rabu (22/4/2026), sekitar pukul 09.00 Wita, warga di kawasan itu menggelar syukuran. Bukan tanpa alasan. Bagi mereka, perubahan yang terjadi di lingkungan tersebut layak dirayakan, meski dalam bentuk sederhana.
Syukuran itu disebut sebagai inisiatif warga sendiri. Tidak ada agenda resmi, tidak pula dirancang sebagai bagian dari kegiatan proyek. Warga berkumpul karena satu hal yang mereka rasakan bersama: lingkungan mereka kini jauh lebih baik dari sebelumnya.
Beberapa warga menyebut acara itu digelar secara swadaya. Setiap rumah, kata mereka, menyumbang satu porsi makanan siap saji. Tidak ada kepastian dari mana seluruh kebutuhan acara berasal, namun kebersamaan menjadi hal yang lebih menonjol pagi itu.

Di sejumlah titik, terlihat kehadiran aparat pemerintah yang turut bergabung. Mereka duduk bersama warga, menikmati hidangan, dan sesekali berbincang ringan. Sekilas, suasana yang tercipta menyerupai perayaan Lebaran Ketupat—hangat, terbuka, dan penuh rasa syukur.

Ungkapan syukur itu bukan tanpa dasar. Kawasan yang dulunya kerap menjadi langganan genangan saat hujan, kini mulai menunjukkan perubahan. Jalan lingkungan yang sebelumnya becek telah dilapisi paving block. Saluran air yang dulu tersumbat atau bahkan tidak tersedia, kini mulai mengarah ke sungai.
“Dulu kalau hujan sedikit saja sudah tergenang. Air seperti tidak punya jalan keluar. Sekarang sudah jauh berkurang,” ujar seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan.
Perubahan itu terasa nyata, setidaknya bagi warga yang selama ini hidup berdampingan dengan genangan. Kawasan yang pernah disebut sebagai “loyang air” saat musim hujan, perlahan mulai menemukan aliran.
Namun, di balik suasana yang hangat itu, ada hal-hal yang masih tampak belum selesai.
Di sepanjang jalan paving block, sejumlah lubang saluran air di tepi jalan terlihat belum tertutup. Beberapa di antaranya bahkan masih dalam tahap penggalian. Material konstruksi masih berserakan di beberapa titik. Tanah di sekitar saluran tampak belum dirapikan sepenuhnya.









Di tengah perayaan dan lantunan musik yang terdengar dari rumah-rumah warga, pekerjaan proyek masih berlangsung. Seorang tukang terlihat menggali lubang di tepi jalan, sementara yang lain mengaduk campuran semen. Pagi itu, syukuran dan pekerjaan berjalan berdampingan—masing-masing dengan maknanya sendiri.
Kondisi ini menghadirkan kontras yang sulit diabaikan. Di satu sisi, warga merayakan perubahan yang mulai dirasakan. Di sisi lain, pekerjaan fisik masih berjalan, bahkan di beberapa bagian masih berada pada tahap dasar.
Proyek penataan kawasan kumuh di Kelurahan Lekobalo sendiri merupakan bagian dari program strategis nasional. Dengan nilai anggaran sekitar Rp3,5 miliar, proyek ini difokuskan pada perbaikan drainase, pembangunan jalan lingkungan dengan paving block, serta pembangunan saluran air untuk mengurangi risiko banjir.
Data sebelumnya menunjukkan, kawasan ini memiliki persoalan klasik: drainase buruk, kepadatan bangunan tinggi, serta sanitasi yang belum memadai. Sekitar 70,11 persen bangunan tidak tertata secara ideal. Karena itu, intervensi pemerintah diharapkan mampu mendorong perubahan tidak hanya secara fisik, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat.
Secara umum, perubahan itu mulai terlihat. Jalan-jalan yang dulunya sulit dilalui saat hujan kini lebih nyaman digunakan. Air tidak lagi menggenang di badan jalan seperti sebelumnya.
Meski demikian, tidak semua persoalan selesai dalam satu tarikan garis.
“Saat hujan deras beberapa hari lalu, jalan sudah tidak tergenang. Tapi tanah lapang di sana masih tergenang karena posisinya lebih rendah,” kata warga lain, menunjuk sebuah area terbuka di sekitar permukiman.
Pekerjaan di kawasan tersebut terbagi dalam tiga blok: Blok A, Blok B, dan Blok C. Sebagian besar sudah bisa digunakan, namun beberapa bagian masih membutuhkan penyelesaian lanjutan, terutama pada saluran air dan pekerjaan finishing.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang mungkin tidak secara terbuka disampaikan, tetapi terasa di antara percakapan-percakapan kecil warga: apakah sebuah proyek layak dirayakan sebelum benar-benar selesai?
Bagi warga, syukuran pagi itu mungkin semata tentang rasa lega. Tentang genangan yang mulai hilang, tentang jalan yang kini lebih layak dilalui. Mereka merayakan apa yang mereka lihat dan rasakan.
Boleh jadi, mereka tidak sepenuhnya mengetahui bahwa di balik proyek yang mereka syukuri, masih tersisa persoalan lain—termasuk polemik pembayaran material penutup manhole yang belum sepenuhnya tuntas.
Sementara itu, di sisi jalan, lubang-lubang saluran air yang belum tertutup tetap terbuka—diam, tetapi cukup jelas untuk dilihat.
Barangkali, bagi sebagian orang, itu hal biasa. Sebuah proses yang memang membutuhkan waktu.
Namun bagi yang lain, itu bisa menjadi pengingat sederhana: bahwa antara selesai dan terasa selesai, tidak selalu berada pada titik yang sama.
Penulis: Lukman.



