GORONTALO, mimoza.tv — Pengusutan dugaan korupsi dana hibah KONI Provinsi Gorontalo terus bergerak. Pada Senin (20/4/2026), penyidik Bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo memeriksa sekitar 29 orang saksi untuk mengurai aliran dan penggunaan anggaran yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.
Dari puluhan saksi tersebut, salah satu yang turut dimintai keterangan adalah seorang pelatih cabang olahraga (cabor) e-sport yang memilih tidak disebutkan namanya. Keterangan yang disampaikannya membuka sisi lain yang tidak hanya menyentuh soal anggaran, tetapi juga pengelolaan fasilitas atlet.
Dalam wawancara usai pemeriksaan, pelatih tersebut mengungkap persoalan penarikan perangkat telepon genggam milik atlet usai ajang PON 2024.
“Masalah awalnya dari E-Sport Indonesia (ESI) Gorontalo. Ada 12 unit handphone yang ditarik setelah PON. Padahal seharusnya itu digunakan oleh atlet untuk latihan dan menunjang kebutuhan mereka,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perangkat yang dimaksud adalah ponsel jenis iPhone yang sebelumnya digunakan atlet selama persiapan hingga pelaksanaan pertandingan. Menurutnya, perangkat tersebut semestinya tetap berada di tangan atlet sebagai bagian dari dukungan pembinaan.
“Harusnya itu jadi milik atlet. Mereka berjuang dari bawah, ikut kualifikasi, bertanding sampai tingkat nasional. Perangkat itu penting untuk latihan,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai penarikan perangkat tersebut tidak berjalan secara wajar. Prosesnya, kata dia, dilakukan dengan cara yang terkesan keras dan minim penjelasan kepada atlet. Bahkan, sempat muncul narasi di media sosial yang menyudutkan atlet, seolah-olah mereka membawa lari aset KONI.
“Ada yang sampai diposting seakan-akan atlet ini yang salah, padahal mereka tidak tahu apa-apa,” ungkapnya.
Ia juga menyebut, saat penarikan dilakukan, sebagian atlet berada di luar daerah untuk keperluan studi. Kondisi itu membuat mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengamankan data pribadi yang tersimpan dalam perangkat.
“Waktu ditarik, mereka tidak sempat salin data. Ketika mau ambil, HP itu sudah tidak jelas posisinya. Ada yang di KONI, ada yang di ESI,” ujarnya.
Dalam bagian keterangannya, pelatih tersebut juga menyampaikan informasi yang masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.
“Saya dapat informasi, beberapa iPhone itu diduga sudah digadaikan oleh oknum pengurus KONI,” katanya.
Informasi tersebut masih menunggu pendalaman lebih lanjut oleh penyidik. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari informasi yang kini beredar, namun belum seluruhnya terkonfirmasi dalam proses penyidikan.
Selain soal perangkat, ia juga menyinggung dinamika seleksi atlet yang dinilai tidak sepenuhnya transparan. Ia mengaku sempat mempertanyakan keputusan pencoretan atlet menjelang keberangkatan, meski atlet tersebut telah melalui proses panjang.
“Saya hanya ingin kejelasan. Atlet ini sudah berjuang dari awal, tiba-tiba mau diganti tanpa penjelasan yang jelas,” ujarnya.
Keterangan tersebut menjadi bagian dari rangkaian informasi yang kini tengah didalami penyidik. Dengan jumlah saksi yang terus bertambah, penyidikan perkara ini mulai menyentuh berbagai aspek, mulai dari administrasi anggaran hingga praktik di tingkat pelaksanaan.
Penyidik masih terus mengumpulkan dan mencocokkan keterangan guna memastikan setiap informasi yang muncul memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Penulis: Lukman



