GORONTALO, mimoza.tv – Di tengah hiruk-pikuk Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026, Gobel Group tidak sekadar hadir sebagai peserta pameran. Perusahaan yang telah berkiprah hampir tujuh dekade itu datang membawa gambaran besar tentang masa depan Gorontalo: menjadi pusat agrominapolitan, logistik, dan industri pengolahan pangan terdepan di Indonesia Timur.
Gagasan tersebut bukan sekadar wacana. Melalui sejumlah proyek strategis yang kini berjalan, mulai dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gorontalo hingga Pelabuhan Internasional Anggrek Gorontalo International Terminal (AGIT), Gobel Group mencoba membangun rantai ekonomi yang menghubungkan petani dan nelayan dengan industri, teknologi, logistik, hingga pasar global.
Ketua Gobel Group, Rachmat Gobel, menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak bisa hanya diukur dari banyaknya produksi pertanian atau perikanan.
“Ketahanan pangan memerlukan ekosistem yang mampu menghubungkan petani dan nelayan dengan teknologi, infrastruktur, industri hilir, sistem logistik yang efisien, serta akses pasar yang berkelanjutan,” kata Rachmat Gobel saat PENAS XVII 2026 di Gorontalo.
Pernyataan itu menjadi benang merah dari seluruh investasi yang sedang dikembangkan kelompok usaha tersebut di Gorontalo.
Dari Sawah dan Laut ke Industri Pengolahan
Selama ini, banyak komoditas unggulan daerah dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambahnya dinikmati pihak lain. Melalui KEK Gorontalo, pola tersebut ingin diubah.
Jagung tidak lagi berhenti sebagai hasil panen. Komoditas itu diarahkan menjadi bahan baku pakan ternak, tepung jagung, sirup glukosa hingga bioetanol. Kelapa yang selama ini banyak dipasarkan dalam bentuk mentah juga didorong menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti minyak kelapa, santan beku, cocofiber hingga briket karbon aktif.
Konsep inilah yang dikenal sebagai hilirisasi, yakni mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah sebelum dipasarkan.
Kajian yang disusun bersama tim ahli Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan KEK Gorontalo berpotensi menciptakan lebih dari 17 ribu lapangan kerja tambahan dibandingkan kondisi tanpa kawasan ekonomi khusus. Dalam jangka panjang, sektor industri bahkan diproyeksikan mampu menyerap lebih dari 129 ribu tenaga kerja pada 2051.
Jika terealisasi sesuai perencanaan, kawasan tersebut bukan hanya menjadi pusat industri baru, tetapi juga mesin pertumbuhan ekonomi Gorontalo dalam beberapa dekade mendatang.
AGIT, Pintu Keluar Produk Gorontalo ke Dunia
Namun industri tidak akan bergerak tanpa jalur distribusi yang kuat. Karena itu, AGIT menjadi bagian penting dalam skema besar tersebut.
Pelabuhan internasional yang dibangun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) itu diposisikan sebagai gerbang logistik Indonesia Timur.
Peran AGIT mulai terlihat dari meningkatnya aktivitas ekspor. Sepanjang 2025, sebanyak 36 ribu ton molasses atau tetes tebu dikirim ke Korea Selatan. Sebelumnya komoditas tersebut juga telah menjangkau Filipina, Australia, Somalia dan Malaysia.
Tidak hanya itu, sekitar 64 ribu ton wood pellet atau pelet kayu juga diekspor ke Jepang dan Korea Selatan melalui fasilitas pelabuhan tersebut.
Data tersebut menunjukkan bahwa Gorontalo mulai memainkan peran yang lebih besar dalam rantai perdagangan internasional, bukan hanya sebagai daerah penghasil bahan baku tetapi juga sebagai simpul logistik strategis di kawasan timur Indonesia.
Kakao Gorontalo Tembus Jepang
Di sisi lain, Gobel Group juga berupaya memperluas akses pasar bagi petani lokal melalui kerja sama dengan perusahaan Jepang Châteraisé.
Lewat konsep farm-to-factory, hasil pertanian dari Gorontalo tidak berhenti di tingkat pedagang pengumpul. Kakao yang dihasilkan petani binaan Gobel Group berhasil masuk ke Jepang untuk diolah menjadi produk cokelat Châteraisé yang dipasarkan di negara tersebut.
Model seperti ini dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian sekaligus memperpendek jarak antara petani dengan pasar internasional.
Visi Gorontalo 2051
Seluruh proyek tersebut merupakan bagian dari Visi Gorontalo 2051 yang selama ini didorong Rachmat Gobel.
Visi itu menempatkan Gorontalo sebagai pusat agrominapolitan, logistik, dan industri pengolahan yang mampu menarik investasi, membuka lapangan kerja, memperkuat infrastruktur, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Tantangannya tentu tidak kecil. Infrastruktur, investasi, kualitas sumber daya manusia hingga kepastian regulasi menjadi faktor yang akan menentukan keberhasilan visi tersebut.
Namun satu hal yang mulai terlihat adalah upaya membangun ekosistem yang lebih lengkap. Bukan hanya meningkatkan produksi di sektor pertanian dan perikanan, tetapi juga memastikan nilai ekonomi dari hasil produksi itu tetap berputar di daerah.
Di tengah agenda besar swasembada pangan nasional yang terus digaungkan pemerintah, pendekatan seperti ini menjadi penting. Sebab ketahanan pangan tidak hanya soal menghasilkan lebih banyak, tetapi juga soal memastikan petani dan nelayan memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari setiap hasil yang mereka produksi. (rls/luk)



