GORONTALO, mimoza.tv – Sorak sorai menyambut kehadiran Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menjadi salah satu momen yang paling membekas dalam pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII di Gorontalo. Antusiasme peserta bahkan sempat mengundang kelakar Presiden Prabowo Subianto saat menyebut nama Sherly dalam sambutannya.
Di media sosial, momen itu terus bergulir. Mulai dari sambutan meriah peserta, pertemuan Sherly dengan hiu paus yang kebetulan juga diberi nama “Sherly”, hingga berbagai potongan video yang menjadi konsumsi publik.
Namun, sebagaimana setiap peristiwa besar, euforia pada akhirnya akan mereda.
Ketika panggung dibongkar, tamu kembali ke daerah masing-masing, dan linimasa media sosial berganti dengan isu baru, muncul satu pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apa yang sesungguhnya ditinggalkan PENAS XVII bagi petani dan nelayan Gorontalo?
Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk mengevaluasi atau mencari kekurangan penyelenggaraan acara. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk melihat sebuah perhelatan nasional dari tujuan yang paling mendasar: apakah manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang menjadi alasan utama kegiatan ini diselenggarakan.
PENAS sejak awal dirancang bukan sekadar sebagai agenda seremonial. Forum ini menjadi ruang bertemunya petani, nelayan, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, hingga pemerintah untuk bertukar pengalaman, teknologi, inovasi, serta memperluas jejaring yang diharapkan bermuara pada peningkatan kesejahteraan sektor pertanian dan perikanan.
Karena itu, ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada ramainya peserta, meriahnya pembukaan, atau viralnya sebuah momen di media sosial.
Ukuran yang lebih substansial justru baru dapat dilihat setelah kegiatan usai.
Salah satu indikator yang lazim digunakan adalah Nilai Tukar Petani (NTP) yang setiap bulan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). NTP menggambarkan daya tukar hasil produksi pertanian terhadap barang dan jasa yang harus dibayar petani. Secara sederhana, semakin tinggi NTP, semakin baik posisi ekonomi petani.
Data BPS terakhir menunjukkan bahwa pada Mei 2026, NTP Provinsi Gorontalo tercatat 121,92, turun 3,06 persen dibandingkan April 2026 yang sebesar 125,77.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi turunnya indeks harga yang diterima petani lebih cepat dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayar petani.
Jika dilihat lebih rinci, penurunan cukup tajam terjadi pada subsektor tanaman hortikultura yang mencapai 33,85 persen, disusul tanaman perkebunan rakyat 2,19 persen, dan perikanan budidaya 5,08 persen.
Di sisi lain, beberapa subsektor justru mencatat kenaikan, yakni tanaman pangan 5 persen, peternakan 1,65 persen, dan perikanan tangkap 2,80 persen.
Data tersebut tentu belum dapat dijadikan ukuran dampak PENAS XVII, mengingat angka NTP Mei 2026 mencerminkan kondisi sebelum pelaksanaan kegiatan nasional tersebut. Namun data ini memberikan gambaran mengenai titik awal kondisi petani Gorontalo.
Karena itu, menarik untuk menantikan bagaimana perkembangan indikator-indikator tersebut pada bulan-bulan setelah PENAS berlangsung.
Apakah akan terjadi peningkatan kesejahteraan petani?
Apakah jaringan usaha yang terbangun selama PENAS akan membuka pasar baru?
Apakah teknologi yang diperkenalkan benar-benar diadopsi oleh petani dan nelayan?
Ataukah manfaat terbesar justru hadir dalam bentuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang baru akan terasa dalam jangka menengah?
Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan waktu untuk dijawab melalui data, bukan sekadar persepsi.
Dalam konteks ini, masyarakat juga diajak melihat bahwa keberhasilan sebuah event pembangunan tidak semata diukur dari seberapa ramai pemberitaannya atau seberapa banyak potongan video yang menjadi viral.
Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika manfaatnya dapat dirasakan oleh petani dan nelayan yang setiap hari bekerja menjaga ketahanan pangan dan menggerakkan ekonomi daerah.
Begitu pula keberhasilan penyelenggaraan PENAS XVII.
Keberhasilan itu bukan semata-mata klaim individu atau milik satu pihak tertentu. PENAS dapat terlaksana karena kolaborasi banyak unsur, mulai dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Gorontalo, pemerintah kabupaten dan kota, KTNA, penyuluh, aparat keamanan, relawan, hingga masyarakat yang ikut menyukseskan kegiatan tersebut.
Semangat kolaboratif itulah yang semestinya menjadi warisan utama.
Sebab pada akhirnya, esensi PENAS bukanlah membangun popularitas seseorang, melainkan membangun masa depan pertanian dan perikanan Indonesia.
Sorak sorai akan berhenti. Panggung akan dibongkar. Perhatian publik akan bergeser ke peristiwa lain.
Namun apabila setelah semua itu petani memperoleh akses pasar yang lebih luas, nelayan mendapatkan teknologi yang lebih baik, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan ikut terangkat, maka di situlah makna sesungguhnya dari sebuah PENAS.
Dan mungkin, itulah ukuran keberhasilan yang paling layak untuk dikenang.



