GORONTALO, mimoza.tv – Provinsi Gorontalo mulai memasuki fase transisi demografi yang cukup serius. Di satu sisi jumlah penduduk masih terus bertambah, namun di sisi lain angka kelahiran mulai menurun dan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat.
Data hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo menunjukkan penduduk Gorontalo mencapai 1,24 juta jiwa pada tahun 2025. Jumlah itu meningkat dibanding SP2020 yang tercatat sebesar 1,17 juta jiwa.
Laju pertumbuhan penduduk Gorontalo dalam lima tahun terakhir berada di angka 1,24 persen per tahun.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, struktur penduduk Gorontalo mulai mengalami perubahan.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, Dr. Wathekhi, menyebut Provinsi Gorontalo kini telah memasuki fase ageing population atau penuaan penduduk.
“Persentase penduduk lansia hasil SUPAS 2025 sebesar 10,48 persen. Angka ini mengindikasikan Provinsi Gorontalo telah memasuki ageing population,” kata Wathekhi dalam rilis resmi BPS Provinsi Gorontalo.
Dalam kajian demografi, suatu daerah dikategorikan memasuki ageing population ketika jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai minimal 10 persen dari total populasi.
Data SUPAS menunjukkan Kota Gorontalo menjadi daerah dengan persentase lansia tertinggi yakni mencapai 11,37 persen.
Fenomena ini menunjukkan perubahan struktur umur penduduk mulai terjadi, terutama di wilayah perkotaan.
Di sisi lain, angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) Gorontalo juga terus mengalami penurunan.
Pada SP2010, TFR Gorontalo tercatat sebesar 2,76 anak per perempuan. Angka itu turun menjadi 2,30 pada Long Form SP2020 dan kembali turun menjadi 2,24 berdasarkan SUPAS 2025.
Artinya, rata-rata perempuan di Gorontalo kini melahirkan sekitar dua anak selama masa reproduksinya.
Wilayah perkotaan cenderung mencatat angka kelahiran lebih rendah dibanding daerah lainnya. TFR terendah berada di Kota Gorontalo sebesar 2,13, sedangkan tertinggi berada di Kabupaten Gorontalo Utara sebesar 2,41.
BPS menilai penurunan angka kelahiran didorong oleh menurunnya fertilitas pada kelompok usia muda, khususnya usia 15 hingga 24 tahun.
“Penurunan fertilitas remaja terjadi cukup cepat yang dipengaruhi pendewasaan usia kawin perempuan,” ujar Wathekhi.
Selain itu, data SUPAS 2025 juga menunjukkan rasio ketergantungan penduduk Gorontalo mencapai 43,89. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 44 penduduk usia nonproduktif.
Meski rasio tersebut sedikit membaik dibanding SP2020, kondisi itu tetap menjadi indikator penting dalam membaca arah perubahan demografi daerah.
Secara umum, proporsi generasi muda di Gorontalo masih cukup besar. Generasi Z mendominasi struktur penduduk dengan porsi 26,83 persen, disusul generasi milenial sebesar 24,52 persen dan Post Gen Z sebesar 20,23 persen.
Namun peningkatan jumlah lansia dan penurunan angka kelahiran mulai menunjukkan bahwa bonus demografi Gorontalo tidak akan berlangsung selamanya.
Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi daerah, terutama dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia, lapangan kerja produktif, sistem perlindungan sosial, hingga layanan kesehatan bagi penduduk usia lanjut.
Sebab perubahan demografi tidak hanya berbicara soal jumlah penduduk, tetapi juga menyangkut arah pembangunan daerah dalam jangka panjang.
Penulis: Lukman



