GORONTALO, mimoza.tv – Provinsi Gorontalo terus mengalami peningkatan. Fenomena ini menjadi penanda bahwa struktur penduduk daerah mulai bergerak menuju fase penuaan penduduk atau ageing population.
Dalam istilah lokal Gorontalo, kelompok lansia akrab disebut “Ti Bapu” untuk kakek dan “ Ti Nene” untuk nenek.
Data hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo menunjukkan persentase penduduk lansia di Gorontalo kini mencapai 10,48 persen dari total populasi.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, Dr. Wathekhi, mengatakan angka tersebut menunjukkan Gorontalo telah memasuki fase ageing population.
“Persentase penduduk lansia hasil SUPAS 2025 sebesar 10,48 persen. Angka ini mengindikasikan Provinsi Gorontalo telah memasuki ageing population,” kata Wathekhi dalam rilis resmi BPS Provinsi Gorontalo.
Dalam kajian demografi, suatu wilayah dikategorikan memasuki ageing population ketika jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai minimal 10 persen dari total penduduk.
Data SUPAS 2025 juga menunjukkan setengah kabupaten dan kota di Gorontalo mulai mengalami penuaan penduduk.
Kota Gorontalo tercatat menjadi daerah dengan persentase lansia tertinggi yakni mencapai 11,37 persen.
Fenomena meningkatnya jumlah “Ti Bapu” dan “Nene” ini terjadi bersamaan dengan penurunan angka kelahiran di Gorontalo dalam beberapa tahun terakhir.
BPS mencatat angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) Gorontalo turun dari 2,76 pada tahun 2010 menjadi 2,24 pada tahun 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia muda masih besar, namun laju kelahiran mulai melambat sementara jumlah lansia terus bertambah.
Secara sosial, perubahan ini mulai terlihat terutama di wilayah perkotaan. Banyak keluarga kini mulai menghadapi tantangan baru, mulai dari kebutuhan perawatan lansia, layanan kesehatan, hingga beban ekonomi keluarga.
Data SUPAS 2025 juga mencatat rasio ketergantungan penduduk Gorontalo berada di angka 43,89. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 44 penduduk usia nonproduktif.
Meski usia produktif masih mendominasi struktur penduduk Gorontalo, peningkatan jumlah lansia menjadi sinyal penting bagi daerah dalam menyiapkan kebijakan jangka panjang.
Mulai dari layanan kesehatan, perlindungan sosial, fasilitas ramah lansia, hingga penguatan ekonomi keluarga menjadi tantangan yang diperkirakan akan semakin terasa dalam beberapa tahun mendatang.
Sebab perubahan demografi tidak hanya soal bertambahnya jumlah penduduk, tetapi juga menyangkut kesiapan daerah menghadapi perubahan struktur sosial masyarakat di masa depan.
Penulis: Lukman



